Menyelami Kisah Kaum Nabi Luth dalam Al-Hijr: Ayat 61

Ilustrasi Metaforis Nabi dan Kehancuran Representasi visual metaforis dari pengingat ilahi dan konsekuensi. Pesan Akibat

Kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Qur'an bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan cermin bagi umat manusia di setiap zaman. Salah satu kisah yang penuh pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, dan konsekuensi penolakan adalah kisah kaum Nabi Luth (Lot) AS. Dalam surat Al-Hijr, Allah SWT menyajikan rangkaian peristiwa yang berakhir tragis bagi kaum tersebut. Fokus kita kali ini adalah pada **Al-Hijr ayat 61**, sebuah ayat singkat namun sarat makna yang menjelaskan momen krusial ketika utusan Allah mulai bertindak.

"Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semua, kecuali istrinya." (QS. Al-Hijr: 61)

Konteks Kedatangan Para Malaikat

Untuk memahami ayat 61, kita perlu melihat konteks ayat-ayat sebelumnya. Nabi Luth AS diutus untuk membimbing kaumnya yang terkenal keras kepala dan melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelum mereka. Ketika azab Allah mulai didekati, Allah mengutus beberapa malaikat dalam wujud manusia yang sangat tampan untuk mengunjungi Nabi Luth di kota Sodom. Kunjungan ini adalah bagian dari rencana ilahi, baik untuk menguji kesabaran Nabi Luth maupun untuk memberikan peringatan terakhir kepada kaumnya.

Kaum Nabi Luth yang jahat segera mengetahui kedatangan tamu-tamu tersebut dan berusaha merebut mereka untuk melakukan perbuatan keji. Nabi Luth AS merasa tertekan, berjuang keras melindungi tamunya (malaikat) dari perbuatan kaumnya. Dalam keadaan terdesak itulah, para malaikat (yang ternyata adalah utusan Allah) memberikan kepastian kepada Nabi Luth.

Janji Penyelamatan yang Terpilih

Ayat 60 dan 61 secara berurutan menegaskan janji ilahi: "Demi Allah, sungguh kami akan menyelamatkan engkau dan keluargamu, kecuali istrimu." Kemudian ayat 61 memperkuatnya: "Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semua, kecuali istrinya."

Penyelamatan ini bersifat absolut bagi Nabi Luth dan seluruh pengikutnya yang beriman. Ini adalah penegasan bahwa doa dan kesabaran seorang Nabi akan didengar dan diwujudkan oleh Allah SWT. Namun, di tengah janji penyelamatan universal itu, terdapat pengecualian tunggal: istri Nabi Luth AS.

Tragedi Istri Nabi Luth

Pengecualian ini adalah salah satu pelajaran paling menyedihkan dalam sejarah kenabian. Istri Nabi Luth, meskipun hidup di bawah naungan kenabian, tidak beriman sepenuhnya dan bahkan cenderung memihak atau menyembunyikan kejahatan kaumnya. Ia dirujuk dalam Al-Qur'an di beberapa surat lain (seperti Al-Ankabut ayat 32 dan At-Tahrim ayat 10) sebagai salah satu contoh wanita yang berkhianat secara spiritual meskipun status sosialnya tinggi.

Kesalahan utamanya bukanlah sekadar ketidakpercayaan, tetapi pengkhianatan terhadap ajaran yang dibawa suaminya dan kurangnya empati terhadap siksa yang akan menimpa orang-orang yang menolak kebenaran. Ketika azab berupa hujan batu dari tanah yang terbakar ditimpakan kepada kaum Sodom dan Gomora, istri Nabi Luth memilih untuk tinggal atau tertinggal, dan ia pun musnah bersama kaumnya. Ayat 61 ini menjadi peringatan keras bahwa iman haruslah total dan terwujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar ikatan kekerabatan atau status.

Pelajaran dari Al-Hijr Ayat 61

Pelajaran utama dari ayat ini adalah bahwa hubungan kekerabatan duniawi (seperti pernikahan) tidak otomatis memberikan keselamatan di akhirat jika tidak disertai dengan keimanan yang benar. Setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dalam menerima kebenaran ilahi.

Ayat ini juga menggarisbawahi konsistensi janji Allah. Janji penyelamatan bagi orang beriman selalu ditepati, sebagaimana janji peringatan dan hukuman bagi orang yang mendustakan kebenaran juga pasti terlaksana. Ayat Al-Hijr 61 adalah pengingat bahwa dalam perjalanan dakwah, bahkan orang terdekat pun mungkin menjadi pengecualian jika hati mereka telah tertutup rapat oleh kesesatan. Kisah ini menegaskan pentingnya kesetiaan mutlak kepada prinsip-prinsip tauhid, karena pada akhirnya, pertimbangan akhir hanyalah keteguhan iman pribadi di hadapan Sang Pencipta.

Oleh karena itu, ketika merenungi Al-Hijr 61, seorang mukmin diingatkan untuk selalu memeriksa keimanan keluarganya dan dirinya sendiri, memastikan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal saat panggilan keselamatan ilahi datang menjelang.

🏠 Homepage