Ilustrasi visualisasi perilaku yang bertentangan dalam interaksi sosial.
Akhlak, atau karakter moral, adalah fondasi penting dalam interaksi sosial dan spiritualitas seseorang. Sementara akhlak terpuji (mahmudah) mendorong kedamaian dan kemaslahatan, akhlak tercela (madzmumah) justru membawa kerusakan pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Memahami contoh-contoh akhlak tercela yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari adalah langkah pertama untuk melakukan perbaikan diri.
Akhlak tercela tidak selalu berbentuk tindakan kriminal besar; seringkali ia tersembunyi dalam interaksi sepele, ucapan spontan, atau bahkan dalam niat hati yang terabaikan. Berikut adalah beberapa contoh umum akhlak tercela yang perlu kita waspadai.
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang orang lain yang ia tidak sukai jika mendengarnya, baik hal itu benar adanya maupun tidak (jika tidak benar, itu namanya fitnah). Dalam konteks sehari-hari, ini sering terjadi di warung kopi, grup obrolan, atau bahkan di kantor.
Dampak ghibah sangat merusak. Ia menumbuhkan bibit ketidakpercayaan, permusuhan, dan yang paling parah, ia mengotori hati pelaku dengan penyakit hasad dan iri hati. Dalam banyak ajaran, ghibah sering disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri.
Dengki adalah perasaan tidak suka ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat atau kebaikan. Sementara hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Perbedaan tipis ini sama-sama berbahaya.
Kita sering melihatnya ketika rekan kerja dipromosikan, lalu kita mulai menjelek-jelekkan pencapaiannya di belakang, atau ketika tetangga membeli barang baru, kita merasa tidak nyaman dan mendoakan kesulitannya. Sifat ini menghalangi seseorang untuk bersyukur atas nikmatnya sendiri karena terlalu fokus membandingkan diri.
Kemarahan adalah emosi yang wajar, namun ketika ia menjadi akhlak tercela, ia berarti kemarahan sering meledak tanpa alasan yang proporsional, atau meluap hingga menyakiti orang lain secara fisik maupun verbal.
Contohnya termasuk membanting pintu karena sepele, mengeluarkan kata-kata kasar kepada anggota keluarga karena terlambat dilayani, atau bahkan memaki pengguna jalan lain karena dianggap menghalangi laju kendaraan. Kemarahan yang tidak terkendali seringkali menjadi pintu masuk bagi tindakan zalim lainnya.
Kesombongan termanifestasi dalam berbagai bentuk: merasa paling benar dalam berpendapat (padahal masih banyak belajar), merendahkan pekerjaan orang lain yang dianggap lebih rendah statusnya, atau bahkan menolak menerima nasihat karena merasa sudah sempurna.
Dalam lingkungan digital, kesombongan sering muncul dalam bentuk *keyboard warrior* yang dengan angkuh menjatuhkan argumen orang lain tanpa didasari empati atau ilmu yang memadai. Inti dari sombong adalah menempatkan diri di atas orang lain, yang merupakan penghalang terbesar dalam menerima kebaikan dan belajar.
Kikir adalah menahan harta atau kemampuan untuk berbagi, meskipun ia mampu. Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat ketika seseorang enggan bersedekah sekecil apa pun, atau ketika ia memiliki banyak tetapi enggan membantu tetangga yang kesulitan.
Kikir seringkali berakar dari cinta dunia yang berlebihan, takut kehilangan, dan lupa bahwa harta hanyalah titipan. Perilaku ini menciptakan jurang antara yang memiliki dan yang membutuhkan, serta menjauhkan diri dari rasa syukur sejati.
Mengenali contoh akhlak tercela bukanlah untuk saling menghakimi, melainkan sebagai peta jalan untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Kehidupan sehari-hari adalah medan latihan moral terbesar kita. Setiap kali kita berhasil menahan diri dari bergosip, menahan emosi saat diremehkan, atau berbagi rezeki meski sedikit, saat itulah kita sedang membangun benteng akhlak mulia.
Perbaikan karakter adalah proses berkelanjutan. Dengan menyadari dan berupaya keras menjauhi sifat-sifat buruk tersebut, kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta.