Simbol sederhana yang merepresentasikan atom atau molekul dari unsur dengan potensi bahaya.
Air raksa, atau yang dikenal dalam dunia kimia sebagai merkuri (Hg), adalah unsur kimia logam yang memiliki sifat unik dan penampilan yang khas. Secara fisik, air raksa adalah satu-satunya unsur logam yang berwujud cair pada suhu dan tekanan standar ruangan. Warnanya keperakan, berkilau, dan mampu membentuk bola-bola kecil yang memantul, menjadikannya objek yang menarik sekaligus misterius. Nama "air raksa" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta "rasa" yang berarti cairan, menggambarkan wujudnya yang cair.
Keunikan utama air raksa adalah wujudnya yang cair pada suhu kamar. Hal ini disebabkan oleh gaya tarik antaratomnya yang relatif lemah dibandingkan logam lain, sehingga elektron valensinya tidak mudah terdelokalisasi untuk membentuk ikatan logam yang kuat. Titik lelehnya yang sangat rendah, -38.83 derajat Celsius, dan titik didihnya yang relatif tinggi, 356.73 derajat Celsius, memungkinkan air raksa tetap cair dalam rentang suhu yang luas.
Selain itu, air raksa memiliki tegangan permukaan yang tinggi, memungkinkannya untuk berkumpul dalam bentuk bola-bola kecil alih-alih menyebar seperti cairan lain. Ia juga memiliki daya hantar listrik yang baik, meskipun tidak sebaik logam konduktor lainnya seperti tembaga atau perak. Dalam hal reaktivitas kimia, air raksa tidak bereaksi dengan kebanyakan asam, namun dapat larut dalam asam pengoksidasi seperti asam nitrat.
Meskipun kini banyak dibatasi karena toksisitasnya, air raksa pernah memiliki beragam aplikasi penting. Sifatnya yang cair dan konduktif membuatnya ideal untuk digunakan dalam termometer analog, barometer, dan sakelar listrik. Dalam termometer, perubahan volume air raksa akibat pemuaian dan penyusutan karena perubahan suhu dapat dibaca pada skala yang terkalibrasi. Barometer menggunakan kolom air raksa untuk mengukur tekanan atmosfer.
Selain itu, air raksa juga digunakan dalam industri seperti pembuatan lampu neon, baterai, dan bahkan dalam amalgam gigi yang dulu populer. Senyawa-senyawanya juga dimanfaatkan dalam industri kimia dan farmasi, meskipun penggunaannya semakin dikurangi dan digantikan oleh bahan yang lebih aman.
Di balik keunikannya, air raksa menyimpan bahaya yang serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Air raksa merupakan logam berat beracun yang dapat terakumulasi dalam tubuh, terutama dalam organ vital seperti otak, ginjal, dan hati. Paparan terhadap air raksa dapat terjadi melalui inhalasi uapnya, konsumsi makanan yang terkontaminasi (terutama ikan laut yang terkontaminasi merkuri organik), atau kontak kulit.
Gejala keracunan air raksa bervariasi tergantung pada tingkat paparan dan bentuk merkuri. Paparan akut dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, diare, nyeri otot, dan gangguan pernapasan. Sementara itu, paparan kronis atau jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan neurologis permanen, gangguan perkembangan pada anak-anak, masalah ginjal, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Beberapa bentuk air raksa, seperti metilmerkuri, sangat berbahaya karena dapat menembus sawar darah otak dan plasenta, sehingga membahayakan janin yang sedang berkembang. Keracunan merkuri yang terkenal, seperti yang terjadi di Teluk Minamata, Jepang, akibat pembuangan limbah industri yang mengandung merkuri, menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya pengelolaan bahan berbahaya ini.
Air raksa yang dilepaskan ke lingkungan dapat mengalami siklus biogeokimia yang kompleks. Melalui proses metilasi oleh mikroorganisme, air raksa anorganik dapat berubah menjadi metilmerkuri yang jauh lebih beracun dan mudah diserap oleh organisme hidup. Metilmerkuri kemudian dapat masuk ke dalam rantai makanan, dan konsentrasinya akan meningkat seiring dengan tingkatan trofik (biomagnifikasi). Ikan predator besar seringkali memiliki konsentrasi metilmerkuri tertinggi.
Oleh karena bahayanya yang signifikan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi penggunaan dan emisi air raksa. Konvensi Minamata tentang Merkuri adalah perjanjian internasional yang bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari emisi dan pelepasan air raksa dan senyawanya. Perjanjian ini mendorong negara-negara anggota untuk mengurangi, dan jika memungkinkan, menghilangkan penggunaan air raksa dalam berbagai produk dan proses industri.
Pengelolaan limbah yang mengandung air raksa juga sangat krusial. Limbah tersebut harus ditangani dengan metode yang aman untuk mencegah pelepasan ke lingkungan. Alternatif yang lebih aman terus dikembangkan untuk menggantikan produk-produk yang masih menggunakan air raksa, demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk generasi mendatang.