Artinya:
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Kami berikan minum air itu kepadamu, dan sekali-kali kamu bukanlah penyimpannya.
Ilustrasi Kekuasaan Allah atas Alam Semesta
Surah Al-Hijr adalah surat Makkiyah yang kaya akan penegasan tentang keesaan Allah, peringatan bagi pendusta, serta kisah-kisah para nabi. Ayat 22 dari surah ini, seperti yang telah kita baca, secara spesifik menyoroti dua mekanisme fundamental dalam ekosistem alam semesta yang sepenuhnya berada di bawah kendali Ilahi: **pengawinan (penyerbukan) melalui angin** dan **turunnya hujan sebagai sumber kehidupan**.
Dalam konteksnya, ayat ini datang setelah Allah SWT menjelaskan tentang penciptaan manusia (dari tanah liat) dan pentingnya memperhatikan ayat-ayat-Nya. Allah kemudian mengalihkan perhatian manusia kepada bukti-bukti keagungan-Nya di alam terbuka yang dapat diamati sehari-hari.
Kata kunci dalam bagian pertama ayat ini adalah "لَوَاقِحَ" (lawāqiḥ), yang berarti 'yang mengawinkan' atau 'yang membuahi'. Dalam ilmu botani modern, kita memahami bahwa banyak tanaman, terutama yang berbunga, memerlukan bantuan untuk memindahkan serbuk sari (polinasi) dari satu bunga ke bunga lainnya agar terjadi pembuahan dan menghasilkan buah. Salah satu vektor utama penyerbukan ini adalah angin.
Sebelum penemuan ilmiah modern, manusia mungkin hanya melihat angin sebagai pergerakan udara biasa. Namun, Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan peran vital angin dalam proses reproduksi tumbuhan. Ini adalah keajaiban mikrokosmos yang terjadi secara masif di seluruh dunia. Bayangkan miliaran tanaman yang bergantung pada angin yang ditiupkan oleh Allah untuk menghasilkan panen dan buah-buahan yang menjadi makanan bagi manusia dan hewan. Keakuratan deskripsi ini, yang disajikan ribuan tahun lalu, menjadi bukti ketuhanan wahyu ini.
Bagian kedua ayat ini membahas tentang hujan: "فَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ" (lalu Kami turunkan air (hujan) dari langit, maka Kami berikan minum air itu kepadamu). Air adalah zat paling esensial bagi kehidupan di bumi. Allah yang menetapkan siklus hidrologi—penguapan, pembentukan awan, dan curah hujan—serta menentukan di mana dan kapan air itu jatuh.
Poin penting selanjutnya adalah penutup ayat: "وَمَا أَنتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ" (dan sekali-kali kamu bukanlah penyimpannya). Frasa ini mengandung dua makna mendalam. Pertama, secara harfiah, manusialah yang paling membutuhkan air, namun mereka tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menyimpannya dalam skala yang diperlukan untuk menopang ekosistem global. Semua waduk, sumur, dan penampungan air hanyalah upaya manusia untuk menahan apa yang telah Allah berikan, bukan sumber aslinya.
Kedua, ini menegaskan ketergantungan total manusia. Kita tidak bisa memaksa hujan turun saat kemarau panjang, dan kita tidak bisa menjamin air akan selalu tersedia jika Allah menariknya. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan rasa syukur yang mendalam dan kesadaran akan ketidakberdayaan manusia di hadapan Pencipta.
QS Al-Hijr ayat 22 berfungsi sebagai ajakan untuk melakukan tadzkur (perenungan) mendalam. Ayat ini mengajarkan bahwa mekanisme kehidupan—mulai dari penyerbukan bunga hingga turunnya tetesan air—adalah sistem yang terintegrasi sempurna dan dikelola oleh satu Arsitek Agung.
Mengapa Allah menekankan peran angin dan hujan? Karena kedua fenomena ini seringkali dianggap remeh atau malah diperlambat dalam pemahaman manusia purba (bahkan hingga kini). Dengan menyebutkannya secara rinci, Allah menunjukkan bahwa bukti keilahian-Nya tidak hanya ada pada hal-hal besar seperti penciptaan bintang, tetapi juga dalam detail terkecil yang menopang keberlangsungan hidup kita sehari-hari. Jika angin berhenti bertugas membuahi atau hujan berhenti turun, peradaban manusia akan segera runtuh. Oleh karena itu, mensyukuri nikmat yang tampak sepele, seperti udara yang kita hirup atau air yang kita minum, adalah bentuk ibadah tertinggi yang dituntunkan oleh ayat ini.