Ilustrasi representasi Wahyu dan petunjuk Ilahi.
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
Dan janganlah engkau mengeraskan (membaca) shalatmu, dan jangan pula merendahkannya (terlalu pelan), dan carilah jalan tengah di antara keduanya.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran spiritual dan historis. Ayat ke-110 ini turun dalam konteks di mana Nabi Muhammad SAW sering menghadapi tantangan dalam menyampaikan risalah Allah, terutama saat shalat. Pada masa awal dakwah di Mekkah, kaum musyrikin Quraisy sering mengganggu Nabi ketika beliau sedang beribadah. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi kadang kala membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat keras karena semangatnya untuk menyampaikan kebenaran, sementara yang lain menyebutkan beliau terkadang merendahkan suaranya agar tidak menarik perhatian kaum kafir.
Ayat ini memberikan panduan etika spiritual yang sangat praktis: keseimbangan dalam ibadah. Allah memerintahkan Nabi untuk tidak mengeraskan shalatnya secara berlebihan hingga mengganggu orang lain atau menarik perhatian yang tidak perlu dari mereka yang belum beriman, namun juga tidak boleh merendahkannya terlalu pelan (berbisik) sehingga diri sendiri atau jamaah di belakangnya tidak dapat mengikuti dan meresapi bacaan tersebut.
Prinsip "mencari jalan tengah" (سبيلًا - sabīlan) dalam ayat ini melampaui sekadar volume suara saat shalat. Ini adalah filosofi hidup yang diajarkan Islam. Keseimbangan adalah kunci dalam setiap aspek ketaatan. Berlebihan (ghuluw) dalam agama seringkali menjauhkan seseorang dari tujuannya, sementara sikap terlalu lunak atau mengabaikan syariat juga mendatangkan kerugian.
Dalam konteks ibadah mahdhah seperti shalat, keseimbangan ini mencakup kekhusyukan (khusyu') dan penghayatan. Suara yang terlalu keras bisa menunjukkan kesombongan atau ingin pamer (riya'), padahal ibadah seharusnya dilakukan dengan rasa takut dan harap kepada Allah semata. Sebaliknya, suara yang terlalu pelan bisa menunjukkan kurangnya gairah dalam memuji dan mengagungkan Allah, atau bahkan menyebabkan kegagalan dalam menyampaikan bacaan dengan benar.
Bagi umat Islam saat ini, Al-Isra ayat 110 menjadi pengingat bahwa intensitas ibadah harus disesuaikan dengan tempat, waktu, dan kondisi sekitar. Ketika seorang Muslim beribadah sendirian di rumah, ia mungkin bisa lebih lantang dalam membaca doa atau zikir untuk meningkatkan konsentrasi. Namun, ketika berada di masjid bersama jamaah lain, terutama di waktu yang tidak dianjurkan mengeraskan bacaan (seperti setelah Isya atau sebelum Subuh tergantung mazhab), ia harus menyesuaikan suaranya agar tidak mengganggu orang lain yang mungkin sedang beristirahat atau sedang mendirikan shalat dengan intensitas yang berbeda.
Pelajaran keseimbangan ini juga relevan dalam konteks dakwah. Dakwah harus disampaikan dengan hikmah—tidak terlalu keras hingga menyinggung perasaan, namun juga tidak terlalu lemah hingga pesannya tidak tertangkap. Intinya adalah mencari metode yang paling efektif dan paling mendekati keridhaan Allah. Keseimbangan ini menunjukkan kedewasaan spiritual; seseorang yang benar-benar dekat dengan Tuhannya tidak perlu membuktikan kedekatannya dengan suara gemuruh, namun juga tidak menyembunyikan cahaya keimanannya dalam keheningan yang pasif.
Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama pertengahan (ummatan wasathan), yaitu umat yang adil dan seimbang, menjauhi ekstremisme di segala sisi. Dengan mempraktikkan petunjuk ini, seorang mukmin akan menemukan ketenangan dalam ibadahnya dan ketenteraman dalam interaksinya dengan dunia luar. Keseimbangan adalah jalan menuju keberkahan dan penerimaan amal di sisi Allah SWT.