Memahami Penularan HIV dan AIDS

HIV/AIDS: Penyakit Menular atau Tidak?

Pertanyaan mengenai status penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan penyakit lanjutannya, AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), adalah isu krusial yang seringkali disalahpahami oleh masyarakat umum. Jawaban tegasnya adalah: Ya, HIV/AIDS adalah penyakit menular. Namun, penting untuk dipahami bahwa penularan ini tidak terjadi melalui kontak kasual sehari-hari. Virus ini memerlukan mekanisme transmisi spesifik yang melibatkan pertukaran cairan tubuh tertentu.

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 (sejenis limfosit T). Ketika sistem kekebalan melemah secara signifikan karena infeksi HIV yang tidak diobati, tubuh menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik dan jenis kanker tertentu, kondisi inilah yang kemudian disebut AIDS. Mengingat sifatnya yang disebabkan oleh patogen (virus), HIV dikategorikan sebagai penyakit infeksius yang dapat ditularkan dari satu individu ke individu lain.

Ilustrasi Penularan HIV Diagram sederhana menunjukkan tiga jalur utama penularan HIV: hubungan seksual tanpa pelindung, berbagi jarum suntik, dan dari ibu ke anak. Seksual Jarum Suntik Ibu ke Anak

Bagaimana HIV Menular?

Penularan virus HIV memerlukan kontak langsung antara cairan tubuh yang terinfeksi dengan aliran darah atau selaput lendir orang yang sehat. Cairan tubuh yang mengandung konsentrasi virus yang cukup untuk menularkan meliputi: darah, air mani (sperma), cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan ASI (air susu ibu).

Tiga jalur utama penularan yang paling dikenal adalah:

  1. Hubungan Seksual Tanpa Pelindung: Ini adalah rute penularan paling umum secara global. Penularan terjadi melalui kontak antara cairan semen atau cairan vagina yang terinfeksi dengan selaput lendir di anus, vagina, atau mulut. Penggunaan kondom yang benar dan konsisten secara signifikan mengurangi risiko ini.
  2. Berbagi Jarum Suntik atau Alat Suntik: Terutama terjadi di kalangan pengguna narkotika suntik. Ketika jarum yang terkontaminasi darah orang dengan HIV digunakan kembali tanpa sterilisasi, virus dapat langsung masuk ke aliran darah penerima berikutnya. Transmisi juga bisa terjadi melalui peralatan medis yang tidak steril, meskipun ini jarang terjadi di fasilitas kesehatan modern.
  3. Penularan dari Ibu ke Anak (PMTCT): Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada bayinya selama masa kehamilan, saat persalinan, atau melalui proses menyusui (pemberian ASI). Namun, dengan terapi antiretroviral (ARV) yang efektif pada ibu hamil, risiko penularan ini dapat ditekan hingga kurang dari 1%.

Mitos vs. Fakta: Kontak Kasual Aman

Kesalahpahaman terbesar tentang HIV adalah anggapan bahwa ia dapat menular melalui sentuhan biasa. Ini sama sekali tidak benar. HIV TIDAK menular melalui:

Penting untuk ditekankan bahwa stigma dan diskriminasi seringkali lebih berbahaya daripada virus itu sendiri. Memahami jalur penularan yang benar memungkinkan masyarakat untuk bersikap suportif terhadap Orang Dengan HIV (ODHA) dan mempromosikan pencegahan yang efektif, alih-alih menyebarkan ketakutan berdasarkan mitos. Dengan pengobatan ARV yang tepat, orang dengan HIV dapat hidup sehat dengan beban virus yang tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable/U=U), yang berarti mereka tidak dapat menularkan virus tersebut kepada pasangan seksual mereka.

🏠 Homepage