Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ayat ke-102 dari surat ini sering kali menjadi sorotan karena membahas topik penting terkait keimanan, pemikiran, dan kepatuhan terhadap syariat Allah SWT. Ayat ini berbicara mengenai kedudukan hati orang-orang yang beriman dan penolakan mereka terhadap takhayul atau ajaran yang menyesatkan, khususnya yang bertentangan dengan tauhid.
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad): "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruan ini, melainkan ia (Al-Qur'an) hanyalah peringatan bagi seluruh manusia (jin dan manusia)."
Ayat ini diturunkan dalam konteks ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah kerasulan-Nya kepada kaum kafir Quraisy dan kaum musyrikin Mekkah. Salah satu tuduhan utama yang dialamatkan kepada Rasulullah adalah bahwa beliau meminta imbalan materi atau kekuasaan duniawi atas ajaran Islam yang dibawanya. Tuduhan ini bertujuan untuk meremehkan keaslian wahyu yang beliau sampaikan.
Dalam merespons tuduhan tersebut, Allah SWT memerintahkan Nabi untuk menegaskan pendiriannya. Penegasan ini sangat penting untuk menunjukkan kemurnian niat beliau. Ketika seorang Nabi menyampaikan kebenaran ilahi, motivasi utamanya bukanlah keuntungan duniawi, melainkan kewajiban untuk menyampaikan amanah Allah.
Ada tiga poin utama yang dapat ditarik dari ayat ini. Pertama, **Penolakan Upah Material**. Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa dakwahnya tidak dibarengi dengan permintaan imbalan harta benda, jabatan, atau sanjungan dari kaumnya. Hal ini membedakan ajaran wahyu dari ajaran para dukun, penyair, atau tokoh masyarakat yang terkadang memanfaatkan posisi mereka untuk mencari keuntungan pribadi.
Kedua, **Al-Qur'an sebagai Peringatan Semesta**. Frasa "إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ" (kecuali peringatan bagi seluruh alam) menegaskan universalitas Islam. Peringatan ini berlaku tidak hanya bagi bangsa Arab pada masa itu, tetapi bagi seluruh umat manusia dan jin hingga akhir zaman. Peringatan ini mencakup ancaman bagi mereka yang ingkar dan janji ganjaran bagi mereka yang patuh.
Ketiga, **Hakikat Dakwah**. Ayat ini menggarisbawahi bahwa substansi ajaran Islam adalah nasihat, pengingat akan hari akhir, keesaan Tuhan, dan aturan hidup yang benar. Ini adalah tugas mulia yang memerlukan ketulusan hati, bukan transaksi dagang. Motivasi seorang da'i sejati adalah mencari keridhaan Allah, bukan pujian atau materi dari mad'u (yang didakwahi).
Ayat ini memiliki relevansi abadi bagi setiap Muslim yang berdakwah atau mengajak kepada kebaikan. Ia mengajarkan tentang pentingnya menjaga integritas dan keikhlasan. Ketika seseorang mengajak orang lain kepada kebenaran, ia harus memastikan bahwa tindakannya tidak ternodai oleh pamrih duniawi. Jika dakwah didasari oleh keinginan untuk dihormati atau diperkaya, maka ia kehilangan kekuatannya yang hakiki.
Selain itu, penekanan bahwa Al-Qur'an adalah peringatan bagi "seluruh alam" mengingatkan kita bahwa pesan Islam bersifat komprehensif. Peringatan ini harus disampaikan dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih sayang, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, agar pesan kebenaran dapat diterima oleh akal dan hati manusia, terlepas dari latar belakang mereka. Integritas moral dalam berdakwah adalah kunci keberhasilan penyampaian risalah ilahi ini.
Dengan demikian, Al-Maidah ayat 102 menjadi landasan kuat bagi kejujuran intelektual dan spiritual dalam menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, menegaskan bahwa nilai sejati dari ajaran tersebut terletak pada kebenarannya, bukan pada imbalan yang menyertainya.