Ayat ketujuh dari Surah Al-Maidah ini merupakan pengingat yang sangat kuat dan mendasar bagi umat Islam. Ayat ini tidak hanya mengajak untuk mengenang rahmat Allah, tetapi juga menekankan dua pilar penting dalam kehidupan seorang mukmin: Taqwa (ketakwaan) dan Tawakal (berserah diri).
Meskipun ayat ini bersifat umum, banyak mufassir mengaitkannya dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam, terutama peperangan atau ancaman yang pernah dihadapi oleh kaum Muslimin di masa awal dakwah. Secara spesifik, sebagian besar riwayat menunjuk pada peristiwa di masa Rasulullah SAW ketika ada upaya permusuhan yang nyata dari pihak musuh untuk membinasakan kaum Muslimin. Namun, atas izin dan pertolongan Allah, upaya tersebut digagalkan, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menahan niat jahat mereka.
Panggilan "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا" (Hai orang-orang yang beriman) segera diikuti dengan perintah "اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ" (Ingatlah nikmat Allah kepadamu). Mengingat nikmat bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah metode untuk menumbuhkan rasa syukur (syukur) dan meningkatkan keyakinan. Ketika seorang mukmin mengingat bagaimana Allah pernah menyelamatkan mereka dari bahaya besar di masa lalu, keyakinan mereka akan pertolongan di masa depan akan semakin menguat. Ini adalah fondasi mental yang harus dimiliki oleh setiap Muslim dalam menghadapi tantangan hidup.
Ayat ini menjelaskan secara gamblang bahwa ketika niat buruk muncul ("إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَن يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ"), maka Allah yang secara aktif "فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ" (menahan tangan mereka). Ini mengajarkan bahwa kekuatan manusia terbatas. Musuh mungkin kuat secara fisik, namun kekuatan tertinggi berada di tangan Allah SWT. Penggalan ayat ini menjadi bukti nyata bahwa pertahanan sejati seorang mukmin bukanlah pada persenjataan atau jumlah, melainkan pada perlindungan ilahi.
Setelah menegaskan pentingnya mengingat pertolongan masa lalu, ayat ini memberikan dua instruksi praktis untuk masa kini dan masa depan:
"وَاتَّقُوا اللَّهَ" (Dan bertakwalah kepada Allah). Taqwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks ayat ini, takwa berarti bersikap benar, jujur, dan tidak melakukan perbuatan yang justru mengundang kemurkaan Allah, karena bagaimana mungkin Allah menolong hamba yang justru menyalahi perintah-Nya?
"وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ" (Dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman patut berserah diri). Tawakal adalah puncak dari usaha. Setelah berikhtiar secara maksimal, seorang mukmin harus menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Ini bukan pasrah tanpa aksi, melainkan keyakinan teguh bahwa hasil terbaik hanya datang dari ketetapan-Nya. Ayat ini secara tegas membatasi tempat berserah diri, yaitu hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Kesimpulannya, Al-Maidah ayat 7 adalah sebuah manifesto iman yang mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin harus diisi dengan kesadaran akan pertolongan masa lalu, dibingkai oleh ketakwaan yang konstan, dan diakhiri dengan penyerahan diri total (tawakal) kepada Allah SWT dalam setiap urusan.