Fokus pada cara penularan yang benar untuk mencegah stigma.
Isu mengenai penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) masih sering diselimuti oleh mitos dan ketakutan yang tidak berdasar. Informasi yang salah ini sering kali memicu diskriminasi dan stigma sosial terhadap Orang Dengan HIV (ODHA). Memahami secara akurat bagaimana HIV tidak menular adalah langkah krusial dalam memerangi stigma dan memastikan pencegahan yang efektif berdasarkan ilmu pengetahuan.
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4. Virus ini hanya dapat ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi virus yang cukup tinggi. Cairan tersebut meliputi darah, air mani (sperma), cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Semua jalur penularan ini memerlukan kontak langsung antara cairan tersebut dengan aliran darah atau selaput lendir (mukosa) orang lain.
Sangat penting untuk menegaskan bahwa HIV sama sekali tidak menular melalui kontak sosial biasa yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh yang telah disebutkan di atas. Berikut adalah daftar lengkap aktivitas yang aman dan tidak berisiko menularkan HIV:
Kesalahpahaman mengenai penularan sering kali lebih berbahaya daripada virus itu sendiri karena dapat menyebabkan isolasi sosial. Untuk pencegahan yang efektif, fokus harus diletakkan pada tiga jalur penularan utama yang terbukti ilmiah:
Orang yang hidup dengan HIV dan menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) secara teratur, sehingga mencapai status Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan (T=T), tidak akan menularkan virus melalui hubungan seksual. Memahami aspek ini adalah kunci untuk mengakhiri stigma.
Edukasi yang benar adalah pertahanan terbaik melawan HIV/AIDS. Dengan mengetahui secara pasti hiv aids tidak menular melalui kegiatan sosial sehari-hari, masyarakat dapat merangkul ODHA dengan empati, alih-alih menjauhi mereka karena rasa takut yang tidak beralasan. Pencegahan yang efektif berfokus pada perilaku berisiko tinggi, bukan pada kontak sosial umum.