Ilmu pengetahuan alam semesta, sering disingkat IPA Semesta atau Kosmologi, adalah disiplin ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi, struktur, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan. Ini adalah upaya manusia yang paling ambisius untuk menjawab pertanyaan fundamental: Dari mana kita berasal, apa yang ada di sekitar kita, dan ke mana tujuan akhir dari segala sesuatu yang ada?
Studi tentang alam semesta tidak hanya mencakup objek-objek angkasa yang terlihat seperti bintang, planet, dan galaksi, tetapi juga menyelidiki fenomena yang tak terlihat, seperti materi gelap, energi gelap, dan ruang-waktu itu sendiri. Pengetahuan ini dibangun di atas fondasi fisika teoretis—terutama relativitas umum Einstein—dan didukung oleh observasi ekstensif menggunakan teleskop canggih di darat maupun di luar angkasa.
Kosmologi modern berdiri tegak di atas dua pilar utama: Teori Relativitas Umum (General Relativity) dan penemuan bahwa alam semesta mengembang (Ekspansi Alam Semesta). Relativitas Umum memberikan kerangka matematis untuk memahami gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi sebagai kelengkungan ruang-waktu yang disebabkan oleh massa dan energi.
Penemuan paling revolusioner yang mendukung model alam semesta yang dinamis adalah pengamatan Edwin Hubble pada akhir dekade 1920-an. Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauh dari kita, dan kecepatan menjauhnya sebanding dengan jaraknya. Ini adalah bukti kuat bahwa ruang itu sendiri sedang meregang, yang kemudian mengarah pada pengembangan model Big Bang.
Bukti konklusif lain datang dari penemuan Radiasi Latar Belakang Gelombang Mikro Kosmik (Cosmic Microwave Background/CMB) pada tahun 1964. CMB adalah "gema" panas sisa dari alam semesta primordial, sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, ketika alam semesta mendingin cukup untuk memungkinkan foton bergerak bebas. Analisis mendalam terhadap fluktuasi suhu dalam CMB, seperti yang dilakukan oleh misi satelit COBE, WMAP, dan Planck, telah memberikan gambaran paling akurat tentang komposisi dan usia alam semesta kita.
Meskipun kita telah mencapai kemajuan luar biasa, ilmu pengetahuan alam semesta masih dipenuhi oleh misteri besar yang mendorong penelitian masa depan. Diperkirakan bahwa materi yang kita kenal—bintang, planet, gas, dan debu—hanya menyusun sekitar 5% dari total isi alam semesta.
Sekitar 27% diduga terdiri dari **Materi Gelap (Dark Matter)**. Materi ini tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, sehingga tidak dapat diamati secara langsung. Keberadaannya disimpulkan berdasarkan efek gravitasinya yang signifikan terhadap rotasi galaksi dan pergerakan gugus galaksi. Tanpa materi gelap, galaksi-galaksi akan berputar terlalu cepat dan terpisah.
Sisanya, sekitar 68%, adalah **Energi Gelap (Dark Energy)**. Energi inilah yang diyakini bertanggung jawab atas percepatan laju ekspansi alam semesta. Alih-alih melambat karena gravitasi, alam semesta justru semakin cepat dalam pemuaiannya. Energi gelap bertindak sebagai semacam tekanan negatif yang melawan gravitasi pada skala kosmologis terbesar. Memahami sifat sejati dari kedua komponen gelap ini adalah tantangan terbesar dalam fisika saat ini.
Alam semesta dimulai dari keadaan yang sangat homogen dan panas. Seiring dengan pendinginan dan ekspansi, fluktuasi kuantum kecil yang diamati dalam CMB mulai diperkuat oleh gravitasi, memicu pembentukan struktur pertama. Materi mulai berkumpul membentuk filamen-filamen kosmik yang besar.
Di dalam filamen ini, gas hidrogen dan helium yang padat mulai runtuh di bawah gravitasinya sendiri, melahirkan bintang generasi pertama (Populasi III) yang sangat masif dan berumur pendek. Ketika bintang-bintang raksasa ini mati dalam ledakan supernova, mereka menyebarkan unsur-unsur berat (karbon, oksigen, besi, dll.) ke seluruh galaksi. Unsur-unsur inilah yang kemudian menjadi bahan baku pembentukan planet, asteroid, dan pada akhirnya, kehidupan.
Galaksi-galaksi ini terus berinteraksi, bergabung, dan bertabrakan dalam tarian kosmik miliaran tahun, membentuk gugus galaksi, supergugus, dan filamen yang kita amati hari ini. Mempelajari evolusi ini membantu kita memetakan "jaring kosmik" (cosmic web) yang membentuk topologi alam semesta pada skala terbesar.
Prospek masa depan dalam studi ini sangat menarik. Para ilmuwan sedang merancang teleskop generasi baru yang mampu memetakan distribusi energi gelap dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya. Selain itu, upaya untuk mendeteksi materi gelap secara langsung di laboratorium bawah tanah terus dilakukan, berharap dapat mengungkap partikel apa yang sebenarnya membentuk sebagian besar massa kosmos.
Pertanyaan tentang nasib akhir alam semesta sangat bergantung pada sifat energi gelap. Apakah alam semesta akan terus mengembang selamanya (Big Freeze), atau apakah ekspansi akan berbalik (Big Crunch), ataukah materi akan terkoyak oleh energi gelap yang semakin kuat (Big Rip)? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bab terakhir dalam kisah ilmu pengetahuan alam semesta kita. Studi ini memastikan bahwa meskipun manusia hanya menempati planet kecil di pinggiran galaksi yang tak terhitung jumlahnya, keingintahuan kita akan mendorong batas pemahaman kita tentang realitas itu sendiri.