Pertanyaan tentang apa yang terbesar di alam semesta selalu memicu imajinasi kita. Ketika kita memandang langit malam, bintang terlihat kecil, namun bintang hanyalah debu kosmik dibandingkan dengan struktur yang lebih besar. Dalam kosmologi modern, konsep "terbesar" terus diperbarui seiring kemajuan teleskop dan metode observasi kita. Kita tidak lagi hanya mengukur planet atau bintang; kini kita mengukur gugusan galaksi, filamen, dan bahkan dinding kosmik yang membentang melintasi miliaran tahun cahaya.
Sebagai titik awal, galaksi kita, Bima Sakti, memiliki diameter sekitar 100.000 tahun cahaya. Namun, galaksi bukanlah entitas tunggal yang terisolasi. Mereka berkumpul dalam kelompok yang disebut gugus galaksi (groups) dan supergugus (superclusters). Supergugus Laniakea, tempat Bima Sakti berada, memiliki diameter sekitar 520 juta tahun cahaya. Ini adalah lompatan skala yang signifikan, menempatkan miliaran bintang dalam satu 'kota' kosmik.
Namun, struktur ini pun masih tampak kecil jika dibandingkan dengan apa yang ditemukan para astronom di lapisan skala berikutnya: Jaringan Kosmik (Cosmic Web). Alam semesta tersusun seperti spons raksasa, terdiri dari serat-serat terang yang disebut filamen, tempat supergugus berkumpul, dan area gelap yang luas yang disebut void.
Saat kita mencari objek terbesar di alam semesta yang teramati, perhatian kita beralih ke struktur-struktur yang menyusun Jaringan Kosmik. Struktur-struktur ini jauh melampaui ukuran gugusan galaksi individu. Salah satu kandidat terkemuka dalam kategori ini adalah Hercules-Corona Borealis Great Wall (Her-CrB GW).
Struktur ini adalah sebuah 'dinding' galaksi—kumpulan besar galaksi, gugus, dan filamen yang terikat secara gravitasi dan membentang dengan dimensi yang sangat kolosal. Perkiraan ukuran Her-CrB GW mencapai sekitar 10 miliar tahun cahaya panjangnya. Bayangkan ini: cahaya membutuhkan waktu 10 miliar tahun untuk melintasi satu sisi struktur ini! Ini menantang prinsip kosmologi standar yang menyatakan bahwa materi seharusnya terdistribusi secara seragam (homogen dan isotropik) dalam skala yang sangat besar.
Sebelum penemuan Her-CrB GW, Sloan Great Wall (SGW) memegang rekor. Ditemukan pada tahun 2003, SGW membentang sekitar 1,37 miliar tahun cahaya. Meskipun ukurannya mengesankan, SGW kini dipandang sebagai bagian dari filamen yang lebih besar, menunjukkan bagaimana penemuan kosmik sering kali membuka pandangan bahwa objek yang sebelumnya kita anggap terbesar di alam semesta hanyalah sub-struktur dari entitas yang jauh lebih masif.
Struktur seperti SGW dan Her-CrB GW terdiri dari banyak kluster galaksi yang tertata dalam formasi seperti rantai atau dinding yang sangat panjang. Mereka menunjukkan bahwa gravitasi masih memainkan peran utama dalam mengorganisasi materi dalam skala yang sangat besar, meskipun kita juga harus mempertimbangkan pengaruh energi gelap dalam evolusi skala ini.
Penting untuk diingat bahwa semua penemuan ini didasarkan pada pengamatan yang mungkin. Batasan pengamatan kita saat ini dibatasi oleh usia alam semesta itu sendiri, yaitu sekitar 13,8 miliar tahun. Kita hanya bisa melihat materi sejauh cahaya sempat melakukan perjalanan kepada kita—ini dikenal sebagai Horizon Kosmik. Oleh karena itu, struktur terbesar di alam semesta yang bisa kita amati saat ini adalah yang terikat oleh cahaya tersebut.
Meskipun Hercules-Corona Borealis Great Wall saat ini memegang titel sebagai struktur materi terbesar yang terdeteksi, para ilmuwan terus mencari struktur yang lebih besar lagi. Ada spekulasi mengenai keberadaan "Dinding Besar" yang jauh lebih besar lagi, namun konfirmasi observasional tetap diperlukan. Pada akhirnya, yang terbesar di alam semesta bukanlah satu titik atau satu objek, melainkan jaringan raksasa yang menghubungkan semua galaksi, membentang melampaui pemahaman intuitif kita tentang ruang dan jarak.