Tanaman jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas pangan utama dunia. Keberhasilan budidaya jagung sangat bergantung pada bagaimana tanaman tersebut mampu membangun sistem perakaran yang efisien dan kuat. Istilah jagung berakar mengacu pada kondisi akar yang berkembang baik, mampu menyerap nutrisi dan air secara maksimal, serta memberikan jangkar struktural yang kokoh terhadap angin kencang.
Berbeda dengan tanaman monokotil lain yang memiliki akar serabut, sistem perakaran jagung sangat kompleks dan terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan fungsinya dan lokasinya. Memahami anatomi akar ini sangat krusial bagi petani untuk mengoptimalkan manajemen air dan pemupukan.
Peran Vital Sistem Perakaran Jagung
Sistem akar jagung bukan sekadar penopang. Fungsi utamanya meliputi empat pilar penting dalam siklus hidup tanaman:
- Penyerapan Air dan Hara: Akar adalah organ pertama yang menerima air dan mineral terlarut dari tanah. Akar yang luas memungkinkan area kontak yang besar dengan matriks tanah.
- Ankoran Mekanis: Tanah yang gembur rentan menyebabkan tanaman roboh (lodging). Akar yang dalam dan menyebar, terutama akar koloni atau akar udara (aerial roots) pada buku-buku batang bawah, membantu menstabilkan tanaman.
- Penyimpanan Cadangan Makanan: Meskipun tidak sebesar umbi-umbian, akar juga berperan dalam menyimpan karbohidrat yang dihasilkan selama fotosintesis, terutama pada fase pertumbuhan vegetatif awal.
- Interaksi Tanah-Mikroba: Akar mengeluarkan eksudat yang memengaruhi mikroorganisme tanah, membentuk hubungan simbiosis yang penting (misalnya dengan mikoriza) untuk meningkatkan ketersediaan fosfor.
Tahapan Perkembangan Akar Jagung
Perkembangan akar jagung terjadi secara bertahap setelah perkecambahan. Ada tiga kelompok akar utama yang muncul:
1. Akar Embrionik (Primary Root System)
Ini adalah akar pertama yang muncul dari benih, terdiri dari akar primer dan beberapa akar samping awal. Akar ini sangat penting pada fase perkecambahan dan pertumbuhan awal karena ia menembus tanah untuk mencari sumber kelembaban pertama. Namun, sistem ini umumnya memiliki umur pendek dan digantikan fungsinya.
2. Akar Nodul (Nodal Roots)
Ini adalah komponen utama dari sistem akar serabut jagung. Akar nodul muncul dari buku-buku batang di bawah permukaan tanah. Akar ini mulai berkembang pesat ketika tanaman mencapai fase V3 hingga V6 (tiga hingga enam daun). Akar nodul bertanggung jawab atas sebagian besar penyerapan nutrisi dan air selama fase vegetatif kritis.
3. Akar Udara (Shoot/Aerial Roots)
Akar ini tumbuh dari buku-buku batang yang berada di atas permukaan tanah, sering terlihat sebagai struktur menyerupai lutut yang menonjol dari batang. Meskipun sering dianggap hanya sebagai penstabil, akar udara juga berperan aktif dalam penyerapan air, terutama ketika permukaan tanah atas kering dan berudara lembab. Di lahan sawah, akar ini bahkan dapat berfungsi seperti akar tunjang untuk menahan tekanan air.
Faktor Penentu Kualitas Jagung Berakar
Untuk memastikan tanaman jagung memiliki jagung berakar yang optimal, beberapa faktor lingkungan harus dikelola dengan baik:
- Kondisi Tanah: Tanah harus gembur dan memiliki aerasi yang baik. Tanah yang terlalu padat (kompak) atau terlalu berat (liat) akan menghambat penetrasi akar primer dan pertumbuhan akar nodul. Drainase yang buruk menyebabkan anoksia (kekurangan oksigen) yang mematikan ujung akar.
- Ketersediaan Air: Meskipun akar membutuhkan air, kondisi jenuh air justru merusak. Irigasi harus dikelola agar tanah tetap lembab tetapi tidak tergenang, terutama selama periode pertumbuhan akar intensif (sekitar fase V6 hingga tasseling).
- Pemupukan Fosfor: Fosfor (P) sangat penting untuk inisiasi dan pertumbuhan akar yang sehat. Kekurangan P akan menghasilkan sistem akar yang dangkal dan kurang bercabang, membuat tanaman rentan terhadap kekeringan jangka pendek.
- Kedalaman Tanam: Benih yang ditanam terlalu dalam akan menghabiskan banyak energi untuk mencapai permukaan, sering kali menghasilkan akar embrionik yang lemah sebelum akar nodul sempat terbentuk dengan baik.
Kesimpulannya, investasi dalam memperbaiki struktur tanah dan memberikan kondisi pertumbuhan yang mendukung pada awal siklus hidup jagung akan menghasilkan tanaman yang mampu menopang hasil panen maksimal. Sistem perakaran yang kuat adalah fondasi sejati dari produktivitas tanaman jagung.