Memahami Penyakit HIV dan AIDS

Penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan dua istilah yang sering dibicarakan bersama, namun memiliki perbedaan mendasar. Memahami perbedaan ini penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran tentang cara pencegahan serta penanganannya.

Representasi Visual HIV dan Imun Sebuah ikon yang menunjukkan virus (HIV) berwarna merah menyerang sel kekebalan tubuh (CD4) berwarna biru. CD4 HIV menyerang sistem imun

Apa Itu HIV?

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel-sel CD4+ T-helper, yang merupakan bagian vital dalam melawan infeksi dan penyakit. Ketika virus ini masuk ke dalam tubuh, ia akan mencari dan menghancurkan sel CD4. Tanpa sel CD4 yang cukup, tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan jenis kanker tertentu.

Penularan HIV terjadi melalui pertukaran cairan tubuh tertentu, yaitu:

Penting untuk dicatat bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan, pelukan, berbagi makanan atau minuman, gigitan nyamuk, atau penggunaan toilet bersama.

Tahapan Infeksi HIV

Infeksi HIV berkembang melalui beberapa tahapan jika tidak diobati. Kemajuan dari satu tahap ke tahap berikutnya bisa memakan waktu bertahun-tahun, namun pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif dapat memperlambat atau bahkan menghentikan progresi ini.

1. Infeksi Akut (Serokonversi)

Ini adalah fase awal setelah seseorang terinfeksi. Dalam beberapa minggu pertama, virus bereplikasi dengan cepat. Banyak orang mengalami gejala mirip flu (demam, kelelahan, sakit tenggorokan), namun sebagian besar tidak menunjukkan gejala sama sekali. Pada tahap ini, jumlah virus dalam darah sangat tinggi.

2. Latensi Klinis (Infeksi Kronis)

Pada fase ini, virus tetap aktif tetapi bereplikasi pada tingkat yang rendah. Orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Mereka yang rutin mengonsumsi ARV dapat tetap berada di fase ini tanpa berkembang menjadi AIDS.

Apa Itu AIDS?

AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV. Seseorang didiagnosis menderita AIDS ketika sistem kekebalan tubuhnya sudah sangat lemah, ditandai dengan jumlah sel CD4 turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (normalnya berkisar antara 500–1.500 sel/mm³), atau ketika mereka didiagnosis menderita satu atau lebih infeksi oportunistik yang parah.

Infeksi oportunistik adalah penyakit yang biasanya tidak akan menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Contohnya termasuk Pneumocystis pneumonia (PCP), sarkoma Kaposi, tuberkulosis (TB) yang parah, dan beberapa jenis kanker.

Peran Pengobatan Antiretroviral (ARV)

Meskipun HIV belum bisa disembuhkan, pengobatan modern telah mengubah diagnosis HIV dari vonis kematian menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola. Pengobatan Antiretroviral (ARV) adalah kombinasi obat yang bekerja dengan menghambat replikasi virus dalam tubuh.

Tujuan utama pengobatan ARV adalah mencapai kondisi Undetectable = Untransmittable (U=U). Ini berarti jika seseorang yang hidup dengan HIV secara rutin mengonsumsi obat ARV sesuai anjuran dan viral load (jumlah virus dalam darah) mereka menjadi tidak terdeteksi oleh tes standar, mereka tidak dapat menularkan HIV kepada pasangan seksual mereka.

Pencegahan dan Harapan

Pencegahan HIV berfokus pada menghindari paparan terhadap cairan tubuh pembawa virus. Selain praktik hubungan seksual yang aman (menggunakan kondom secara konsisten), terdapat strategi pencegahan penting lainnya:

Dengan pengobatan yang cepat dan akses ke informasi yang akurat, individu yang hidup dengan HIV dapat menjalani hidup yang panjang, sehat, dan produktif, sementara upaya pencegahan terus dilakukan untuk mengakhiri epidemi global ini.

🏠 Homepage