Aksara Bali, yang dikenal juga sebagai Aksara Sunda Kuno atau Lontara Bali, merupakan sistem penulisan tradisional yang berasal dari Pulau Dewata, Bali. Aksara ini memiliki sejarah panjang dan memainkan peran penting dalam pelestarian sastra, lontar kuno, prasasti, serta berbagai catatan budaya Bali. Keunikan dan keindahan visualnya menjadikan Aksara Bali sebagai warisan budaya yang patut dijaga kelestariannya. Meskipun secara umum dikenal sebagai satu kesatuan, dalam perkembangannya terdapat beberapa bentuk dan ciri khas yang bisa dikategorikan sebagai "jenis" aksara Bali, terutama jika dilihat dari fungsi, media penulisan, dan gaya visualnya.
Ini adalah bentuk Aksara Bali yang paling umum dikenal dan dipelajari. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Pallawa. Aksara Wreṣāstra digunakan untuk menulis berbagai macam naskah, mulai dari sastra keagamaan (seperti Lontar Weda, Dharma Pātha), cerita pewayangan, kronik sejarah, hingga kitab-kitab hukum dan pengobatan. Bentuknya yang elegan dan berseni membuatnya sering kali menjadi representasi utama dari Aksara Bali itu sendiri. Setiap aksara memiliki bentuk dasar yang khas, dilengkapi dengan diakritik (tanda vokal) dan tanda mati yang memungkinkan penulisan fonetik yang akurat.
Aksara Carakan Pegon merupakan varian dari Aksara Bali yang memiliki ciri khas tambahan, terutama pada penambahan beberapa "aksara" atau tanda yang berfungsi untuk menuliskan bunyi-bunyi yang tidak ada dalam bahasa Sanskerta atau bahasa Bali asli, tetapi umum dalam bahasa Melayu atau Arab. Istilah "Pegon" sendiri seringkali merujuk pada penyerapan pengaruh dari tradisi penulisan keagamaan Islam di Nusantara. Dalam konteks Aksara Bali, pegon biasanya merujuk pada penggunaan beberapa aksara atau modifikasi tanda untuk merepresentasikan bunyi seperti 'p', 'f', 'z', 'sy', atau bunyi konsonan rangkap lainnya yang sering muncul dalam kata-kata serapan. Meskipun tidak seumum Aksara Wreṣāstra, Aksara Carakan Pegon menunjukkan kemampuan adaptasi dan evolusi aksara ini dalam menghadapi pengaruh linguistik dari luar.
Selain digunakan untuk penulisan pada media tradisional seperti daun lontar, kulit kayu, atau kertas, Aksara Bali juga sering dijumpai dalam bentuk seni ukir dan relief pada bangunan suci (pura), candi, patung, hingga perhiasan. Dalam konteks ini, aksara sering kali ditulis dengan gaya yang lebih tegas, berlekuk, atau dihiasi dengan ornamen-ornamen khas Bali. Bentuknya mungkin tidak selalu mengikuti kaidah penulisan naskah secara presisi, namun tetap mempertahankan identitas dan estetika Aksara Bali. Contohnya bisa ditemukan pada ukiran-ukiran nama dewa, mantra pendek, atau kutipan suci pada berbagai objek seni dan arsitektur. Tampilan aksara pada media ini lebih bersifat monumental dan dekoratif.
Istilah "Lontara" sendiri sebenarnya merujuk pada daun lontar yang menjadi media utama penulisan aksara tradisional di banyak wilayah Asia Tenggara, termasuk Bali. Namun, terkadang istilah "Aksara Lontara" juga digunakan secara spesifik untuk merujuk pada gaya penulisan aksara yang memang didesain untuk ditulis pada media lontar. Ciri khas penulisan pada lontar adalah penggunaannya yang menekankan pada goresan melengkung, karena lebih mudah dibuat dengan alat tulis khusus (pisau pengukir) pada permukaan daun lontar yang lentur. Goresan yang tajam dan bersudut cenderung dihindari. Oleh karena itu, aksara yang ditulis di atas lontar sering kali memiliki kesan lebih halus dan mengalir.
Penting untuk dicatat bahwa perbedaan "jenis" ini lebih bersifat klasifikasi berdasarkan penggunaan, media, dan sedikit variasi gaya, bukan perbedaan fundamental dalam sistem penulisan itu sendiri. Inti dari Aksara Bali tetap sama, yaitu sebuah sistem penulisan abugida yang kaya dan memiliki nilai budaya tinggi. Upaya pelestarian Aksara Bali saat ini dilakukan melalui pendidikan formal dan non-formal, digitalisasi naskah kuno, serta pengenalan kepada generasi muda agar warisan budaya ini tidak punah ditelan zaman. Memahami berbagai aspek dan bentuk Aksara Bali memberikan apresiasi yang lebih mendalam terhadap kekayaan intelektual dan artistik masyarakat Bali.