Memahami Hakikat Keimanan: QS Al-Maidah Ayat 73

Ilustrasi Kesatuan Ketuhanan Gambar abstrak yang merepresentasikan tiga entitas yang menyatu dalam satu cahaya utama, melambangkan Tauhid. ALLAH
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ قُلْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

"Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.' Katakanlah, 'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi?' Milik Allah-lah segala kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Kepada-Nya-lah tempat kembali." (QS. Al-Maidah: 73)

Inti Pesan: Penegasan Ketuhanan Tunggal (Tauhid)

Surat Al-Maidah ayat 73 merupakan salah satu dalil tegas dalam Al-Qur'an yang menyoroti prinsip paling fundamental dalam Islam, yaitu Tauhid—keesaan Allah SWT. Ayat ini secara spesifik membantah keyakinan yang menyamakan kedudukan makhluk dengan Sang Pencipta. Fokus utama ayat ini adalah klarifikasi mengenai status Al-Masih (Isa) putra Maryam.

Allah SWT melalui ayat ini menegaskan bahwa anggapan bahwa Al-Masih adalah Tuhan atau bagian dari Tuhan adalah bentuk kekufuran yang nyata. Penegasan ini bukan bertujuan merendahkan kedudukan Nabi Isa, yang dihormati sebagai salah satu nabi besar, melainkan untuk menjaga kesucian konsep ibadah yang hanya layak ditujukan kepada Allah semata.

Keterbatasan Makhluk dan Kekuasaan Ilahi

Untuk menguatkan argumen tauhid, Al-Maidah 73 menyajikan uji logika yang sangat kuat. Ayat tersebut menantang mereka yang berkeyakinan tersebut: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi?"

Pertanyaan retoris ini menekankan perbedaan mutlak antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Jika Isa Al-Masih adalah Tuhan, maka ia memiliki kekuasaan absolut, termasuk melindungi dirinya sendiri, ibunya, dan seluruh alam dari kehendak Allah yang lain. Namun, fakta bahwa Isa sendiri adalah ciptaan yang diciptakan dari rahim Maryam menunjukkan bahwa ia tunduk pada kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak membinasakannya—sebagaimana Dia berkuasa atas segala sesuatu—maka tidak ada kekuatan di langit maupun di bumi yang mampu menolaknya.

Kepemilikan Mutlak

Puncak penegasan tauhid dalam ayat ini terletak pada kalimat penutup: "Milik Allah-lah segala kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Kepada-Nya-lah tempat kembali."

Ayat ini menetapkan batas wilayah kekuasaan. Allah bukan hanya penguasa di bumi, tetapi juga di seluruh semesta (langit dan segala isinya) serta ruang di antaranya. Kedaulatan ini bersifat mutlak dan abadi. Semua yang ada, termasuk para nabi, malaikat, jin, manusia, dan materi fisik, semuanya adalah milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya untuk pertanggungjawaban akhir.

Bagi seorang Muslim, memahami Al-Maidah 73 berarti memurnikan orientasi ibadah dan ketundukan. Ia mengingatkan bahwa segala bentuk pemujaan, ketergantungan, dan harapan harus diarahkan sepenuhnya kepada Dzat yang memiliki otoritas tunggal atas penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan. Mengakui keesaan-Nya berarti mengakui bahwa segala kemuliaan, kuasa, dan keputusan akhir hanya berada di tangan-Nya, dan kepada-Nya kita semua akan kembali. Pemahaman ini adalah benteng utama dari segala bentuk penyimpangan teologis.

🏠 Homepage