Memahami Jenis Sperma Teratozoospermia

Morfologi Sperma Abnormal

Ilustrasi jenis sperma dengan kelainan bentuk (teratozoospermia).

Teratozoospermia adalah kondisi medis yang mengacu pada kualitas sperma pria di mana terdapat persentase abnormalitas bentuk (morfologi) sperma yang tinggi dalam sampel ejakulat. Kesehatan reproduksi pria sangat bergantung pada kualitas sperma, dan bentuk yang ideal sangat penting agar sperma mampu bergerak secara efisien menuju sel telur dan berhasil membuahi. Ketika teratozoospermia terjadi, kemungkinan pembuahan alami menjadi menurun, sehingga sering menjadi salah satu penyebab utama infertilitas pria.

Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan analisis sperma (spermiogram) yang ketat, biasanya menggunakan kriteria Kruger (Strict Morphology Criteria). Kriteria ini menetapkan standar ketat mengenai bentuk kepala, leher, bagian tengah (midpiece), dan ekor sperma. Secara umum, jika kurang dari 4% sperma memiliki morfologi normal menurut kriteria Kruger, kondisi tersebut diklasifikasikan sebagai teratozoospermia berat.

Jenis-Jenis Kelainan Morfologi Sperma

Kelainan pada sperma dapat terjadi di berbagai bagian strukturalnya. Setiap jenis kelainan ini berkontribusi pada diagnosis teratozoospermia dan dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk berenang atau menembus lapisan pelindung sel telur. Berikut adalah beberapa jenis kelainan morfologi sperma yang paling umum ditemukan:

1. Kelainan pada Kepala Sperma

Kepala sperma mengandung materi genetik (DNA). Kelainan pada bagian ini seringkali menjadi yang paling signifikan karena secara langsung memengaruhi integritas genetik dan kemampuan penetrasi sel telur (akrosom reaksi).

2. Kelainan pada Bagian Tengah (Midpiece) dan Ekor Sperma

Bagian tengah menyediakan energi (ATP) melalui mitokondria, sementara ekor berfungsi sebagai motor penggerak sperma. Kelainan pada area ini biasanya menyebabkan masalah motilitas (pergerakan).

Dampak dan Penanganan Teratozoospermia

Tingkat keparahan teratozoospermia sangat menentukan dampaknya pada kesuburan. Jika persentase sperma abnormal sangat tinggi (misalnya, di bawah 1% morfologi normal), peluang pembuahan alami sangat rendah. Selain itu, teratozoospermia sering dikaitkan dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang lebih tinggi, yang dapat meningkatkan risiko keguguran pada kehamilan yang berhasil.

Penanganan teratozoospermia bervariasi. Untuk kasus ringan hingga sedang, perubahan gaya hidup seperti menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi konsumsi alkohol, mengelola berat badan, dan mengonsumsi suplemen antioksidan sering direkomendasikan. Dalam kasus teratozoospermia berat, metode bantuan reproduksi seperti In Vitro Fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) menjadi pilihan utama. ICSI memungkinkan ahli embriologi memilih satu sperma dengan morfologi terbaik yang terlihat di bawah mikroskop untuk disuntikkan langsung ke dalam sel telur.

Penting untuk diingat bahwa analisis sperma adalah snapshot dari kondisi kesuburan pada satu waktu tertentu. Fluktuasi dalam morfologi sperma bisa terjadi karena faktor eksternal. Oleh karena itu, konsultasi berkelanjutan dengan spesialis kesuburan diperlukan untuk menentukan akar penyebab dan strategi penanganan yang paling efektif.

🏠 Homepage