AIDS, atau Acquired Immunodeficiency Syndrome, adalah stadium akhir dari infeksi yang disebabkan oleh virus. Penting untuk dipahami bahwa AIDS bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan kumpulan sindrom atau gejala yang muncul akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang parah. Kerusakan ini hampir secara eksklusif disebabkan oleh satu jenis virus utama: Human Immunodeficiency Virus (HIV).
HIV adalah retrovirus yang secara spesifik menargetkan sel-sel penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel T CD4+ limfosit. Sel-sel ini berperan sentral dalam mengatur respons imun terhadap patogen lain. Ketika jumlah sel CD4+ ini turun drastis hingga di bawah ambang batas tertentu (biasanya 200 sel per milimeter kubik darah), barulah kondisi tersebut diklasifikasikan sebagai AIDS.
Meskipun kita sering menyebutnya "HIV," virus ini sebenarnya memiliki beberapa subtipe utama yang tersebar secara geografis di seluruh dunia. Memahami jenis-jenis ini penting untuk penelitian dan pengembangan pengobatan yang efektif.
HIV-1 adalah jenis yang paling umum dan paling virulen. Tipe ini bertanggung jawab atas sebagian besar pandemi global. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada awal tahun 1980-an dan menyebar cepat di Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Afrika Tengah. HIV-1 sendiri terbagi lagi menjadi beberapa grup (M, N, O, P), di mana Grup M (Major group) adalah penyebar utama infeksi di seluruh dunia. Grup M ini kemudian dibagi lagi menjadi subtipe (A, B, C, D, dst.) dan juga terdapat bentuk rekombinan seperti CRF (Circulating Recombinant Forms). Subtipe C, misalnya, sangat dominan di Afrika bagian selatan dan India.
HIV-2 secara genetik berbeda dari HIV-1 dan ditemukan terutama di Afrika Barat. Meskipun juga menyebabkan sindrom AIDS, progresi penyakit akibat infeksi HIV-2 cenderung lebih lambat. Tingkat penularannya pun dianggap kurang efisien dibandingkan HIV-1. Orang yang terinfeksi HIV-2 mungkin dapat bertahan hidup lebih lama tanpa menunjukkan gejala klinis yang signifikan, namun tetap memerlukan penanganan medis.
Secara definisi medis dan epidemiologis saat ini, **tidak ada virus lain selain HIV (baik tipe 1 maupun tipe 2) yang secara langsung menyebabkan sindrom AIDS**. Istilah AIDS secara inheren terikat pada infeksi HIV.
Namun, perlu dicatat bahwa kondisi AIDS terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah akibat HIV. Pada titik ini, pasien sangat rentan terhadap infeksi oportunistik—yaitu infeksi yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme lain (bakteri, jamur, protozoa, atau virus lain) yang biasanya tidak berbahaya bagi orang dengan sistem imun yang sehat. Infeksi oportunistik inilah yang sering kali menjadi penyebab langsung kematian pada pasien AIDS.
Contoh virus lain yang dapat menyebabkan penyakit parah pada penderita AIDS meliputi:
Meskipun virus-virus ini berbahaya bagi penderita AIDS, mereka bukanlah penyebab primer dari kondisi AIDS itu sendiri; mereka hanya mengeksploitasi sistem imun yang telah dihancurkan oleh HIV.
Memahami bagaimana virus ini menular sangat penting untuk pencegahan. HIV hanya terdapat dalam cairan tubuh tertentu dan tidak dapat menular melalui kontak kasual. Penularan terjadi ketika cairan tubuh yang mengandung virus dalam jumlah cukup masuk ke dalam aliran darah orang lain.
Tiga jalur penularan utama meliputi:
Penting untuk ditekankan bahwa HIV tidak menular melalui air liur, keringat, air mata, gigitan nyamuk, sentuhan, atau berbagi peralatan makan.