Ilustrasi Bacaan Al-Qur'an
Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong Madaniyah, diturunkan setelah Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surat ini mengandung banyak sekali landasan hukum, perintah, larangan, serta kisah-kisah penting bagi umat Islam, terutama terkait perjanjian, halal-haram, dan kisah Nabi Musa serta Nabi Isa a.s.
Mempelajari dan membaca Surat Al-Ma'idah adalah sebuah kewajiban spiritual yang mendalam. Teks aslinya dalam bahasa Arab memiliki makna yang kaya dan padat. Berikut adalah beberapa kutipan dan pembahasan singkat mengenai bacaan surat yang mulia ini, menekankan pentingnya mengikuti syariat yang termaktub di dalamnya.
Salah satu tema utama dalam Al-Ma'idah adalah tentang pemenuhan janji dan kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah. Ayat pembuka surat ini menekankan pentingnya menepati akad.
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala janji (kontrak). Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (dilarang), dengan menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum apa yang dikehendaki-Nya.
Ayat ini menjadi fondasi penting. Dalam kehidupan sehari-hari, "Al-'Uqud" (janji/kontrak) mencakup janji antara manusia dengan Allah, serta antara sesama manusia. Keteraturan sosial dan spiritual sangat bergantung pada penunaian janji ini.
Surat Al-Ma'idah juga merinci hukum-hukum makanan yang boleh dikonsumsi. Bagian penting lainnya adalah larangan terhadap praktik memakan bangkai dan darah, serta penekanan bahwa semua yang dihalalkan Allah adalah baik.
Diharamkan bagimu (makan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh (dari ketinggian), yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan) bagimu binatang yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah. (Melakukan itu) adalah suatu kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan dan bukan karena ingin berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini, khususnya bagian "Al-Yaum Akmaltu Lakum Dinakum," adalah salah satu ayat paling monumental dalam Islam. Ini menandakan kesempurnaan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Surat Al-Ma'idah juga secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bersikap adil, bahkan kepada mereka yang membenci kita. Keadilan (Al-'Adl) harus ditegakkan tanpa memandang sentimen pribadi.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Memahami dan mengamalkan bacaan surat Al-Ma'idah memberikan pedoman komprehensif, mulai dari tata krama makan minum, hubungan sosial, hingga prinsip keadilan yang universal. Membaca ayat-ayat ini secara rutin adalah cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada pemahaman ajaran Islam yang seimbang.