A

Ilustrasi Kearifan dan Ilmu

Kalam Ulama Tentang Akhlak: Pilar Kehidupan Seorang Mukmin

Akhlak, atau karakter moral, merupakan inti dari ajaran Islam. Ia adalah cerminan sejati dari keimanan seseorang. Para ulama sepanjang sejarah telah menaruh perhatian besar terhadap pembentukan karakter ini, memberikan warisan pemikiran yang tak ternilai harganya mengenai bagaimana seorang mukmin seharusnya berinteraksi dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam semesta.

Perbedaan metode dan penekanan mungkin ada di antara mereka, namun benang merahnya selalu sama: akhlak mulia adalah buah dari ilmu yang diamalkan.

Definisi dan Urgensi Akhlak Menurut Para Cendekiawan

Ulama klasik sering kali mendefinisikan akhlak (moralitas) sebagai "sifat batin yang tertanam dalam jiwa, yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa perlu dipikirkan atau dipaksa." Imam Al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental, menggarisbawahi bahwa akhlak adalah medan perang spiritual terbesar seorang hamba.

“Akhlak adalah keadaan jiwa yang menampakkan perbuatan dengan mudah dan tanpa usaha. Jika keadaan itu menampakkan kebaikan, maka ia disebut akhlak baik. Jika menampakkan keburukan, maka ia disebut akhlak buruk.”

— Imam Al-Ghazali

Bagi para ulama, akhlak bukan sekadar formalitas ibadah yang terlihat (seperti salat dan puasa), melainkan kualitas interaksi sehari-hari. Kehadiran akhlak yang baik memvalidasi kebenaran ibadah mahdhah (ritual). Seseorang yang rajin beribadah namun lisannya menyakiti tetangga atau tangannya mengambil hak orang lain, dipandang oleh ulama sebagai individu yang ibadahnya belum sempurna.

Kesabaran dan Keseimbangan (Tawazun)

Salah satu tema sentral dalam kalam ulama mengenai akhlak adalah pentingnya keseimbangan. Islam mengajarkan jalan tengah (wasatiyah), dan ini harus tercermin dalam perilaku. Kesabaran (sabr) dan syukur adalah dua sisi mata uang akhlak yang harus selalu dijaga.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah sering kali menekankan bahwa orang yang berakhlak mulia adalah mereka yang mampu menempatkan rasa takut (khauf) dan harapan (raja') pada tempatnya. Mereka tidak ekstrem dalam sikap. Ketika mendapat nikmat, mereka bersyukur tanpa menjadi sombong, dan ketika ditimpa musibah, mereka bersabar tanpa mengeluh berlebihan.

“Kesabaran sejati bukanlah pasif menunggu, melainkan menahan diri dari hal yang tidak disukai sambil tetap melakukan ketaatan kepada Allah.”

— Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Kejujuran dan Amanah sebagai Fondasi Sosial

Jika kita menelusuri nasihat-nasihat ulama fiqih dan sufi, hampir semua sepakat bahwa kejujuran (sidq) dan menepati janji (amanah) adalah fondasi masyarakat yang sehat. Ulama terdahulu melihat bahwa rusaknya akhlak suatu umat selalu diawali dengan merosotnya nilai amanah.

Syekh Abdul Qadir Jailani (rahimahullah) seringkali mengingatkan murid-muridnya bahwa perbuatan yang terlihat kecil, seperti janji yang diabaikan, dampaknya sangat besar terhadap hati. Jika seseorang mudah berbohong dalam urusan duniawi, maka sangat mungkin ia akan mudah berdusta kepada Tuhannya dalam perkara agama.

Mengembangkan akhlak yang luhur bukanlah proses instan. Para ulama mengajarkan bahwa ia memerlukan mujahadah (perjuangan keras) melawan hawa nafsu, muhasabah (introspeksi diri) yang berkelanjutan, dan pergaulan dengan orang-orang yang baik. Ini adalah sebuah perjalanan seumur hidup menuju penyerupaan karakter Rasulullah ﷺ, yang diakui oleh seluruh ulama sebagai puncak kesempurnaan akhlak.

Pentingnya Mempelajari Kisah Mereka

Oleh karena itu, membaca dan merenungkan kalam ulama tentang akhlak memiliki fungsi ganda: ia memberikan peta jalan teoritis (ilmu) dan memberikan contoh konkret (amal). Ketika seorang mukmin membaca bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal menghadapi cobaan atau bagaimana kesederhanaan Imam Abu Hanifah terwujud dalam transaksinya, maka pelajaran moral itu menjadi lebih hidup dan aplikatif.

Akhlak, menurut pandangan kolektif para ulama, adalah identitas seorang muslim. Ia adalah bekal terberat di timbangan kelak, melebihi pahala ritual yang banyak namun tanpa disertai kebaikan hati. Menjaga lisan, memelihara pandangan, dan berlapang dada terhadap sesama adalah wujud nyata dari penghormatan kita terhadap warisan agung para pewaris Nabi ini.

Semoga perenungan atas kalam para ulama ini mampu memicu semangat kita untuk terus memperbaiki batin dan memancarkan cahaya kebaikan kepada lingkungan sekitar kita.

🏠 Homepage