Memahami Al-Maidah Ayat 70: Janji dan Kewajiban

Teks dan Terjemahan Ayat

"Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengutus kepada mereka beberapa rasul. Setiap kali seorang rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu (ketentuan) yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka, mereka mendustakan sekelompok dari rasul itu dan membunuh kelompok yang lain."

(QS. Al-Maidah Ayat 70)

Ayat ke-70 dari Surah Al-Maidah ini merupakan salah satu teguran keras dari Allah SWT yang ditujukan kepada Bani Israil (keturunan Ya'qub AS). Ayat ini merangkum sejarah panjang penolakan mereka terhadap para utusan Allah yang diutus. Inti dari ayat ini adalah peringatan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali didorong oleh kesombongan dan mengikuti hawa nafsu, bukan karena ketidakmampuan mereka memahami wahyu.

Kebenaran Dihadang Hawa Nafsu Ilustrasi visual penolakan terhadap wahyu ilahi yang dibawa oleh rasul.

Janji Allah dan Konsekuensi Penolakan

Ayat ini diawali dengan penegasan bahwa Allah telah menjalin "perjanjian" (mīthāq) dengan Bani Israil. Perjanjian ini berlandaskan ketaatan mutlak kepada syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka, dimulai dari Nabi Musa AS. Allah secara konsisten mengutus para rasul dengan risalah yang jelas.

Namun, fokus utama Al-Maidah ayat 70 adalah pada reaksi mereka. Ayat ini mengungkapkan pola perilaku yang sangat berbahaya: **penolakan berdasarkan hawa nafsu**. Ketika wahyu yang dibawa oleh rasul sejalan dengan keinginan dan kepentingan mereka, mereka mungkin menerimanya. Tetapi, ketika wahyu tersebut menuntut mereka untuk meninggalkan kemewahan, kesombongan, atau mengikuti aturan yang membatasi kesenangan duniawi mereka, mereka langsung menolaknya.

Dua bentuk penolakan ekstrem disebutkan di sini: mendustakan (menganggap bohong) sebagian rasul dan membunuh sebagian lainnya. Ini menunjukkan tingkat pembangkangan yang luar biasa. Membunuh rasul adalah puncak dari pengkhianatan terhadap perjanjian ilahi. Sejarah mencatat banyak nabi dan pengikut nabi yang dibunuh oleh kaumnya karena menyampaikan kebenaran yang tidak menyenangkan bagi penguasa atau mayoritas.

Pelajaran Universal dari Ayat Ini

Meskipun ayat ini secara spesifik berbicara tentang Bani Israil, pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan bagi umat manusia sepanjang zaman, termasuk umat Nabi Muhammad SAW.

  1. Bahaya Hawa Nafsu: Ayat ini mengajarkan bahwa penghalang terbesar seseorang menerima kebenaran adalah hawa nafsu (syahawat). Ketika hati lebih condong kepada kenyamanan duniawi daripada ketakwaan, maka kebenaran akan terasa pahit dan ditolak.
  2. Konsistensi Risalah: Semua rasul membawa pesan fundamental yang sama: tauhid dan kepatuhan kepada Allah. Penolakan terhadap satu rasul berarti penolakan terhadap seluruh ajaran ilahi yang dibawa oleh para rasul sebelumnya dan sesudahnya.
  3. Konsekuensi Berat: Pembunuhan dan pendustaan terhadap utusan Allah adalah dosa besar yang mendatangkan murka ilahi. Sikap ini menggarisbawahi betapa pentingnya menghormati dan mengikuti petunjuk kenabian.

Dalam konteks kenabian Muhammad SAW, peringatan ini menjadi semakin relevan. Umat Islam diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kehadiran Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad SAW adalah kelanjutan dari rangkaian risalah tersebut. Tugas umat adalah berpegang teguh padanya, bukan menyeleksi mana yang cocok dengan selera pribadi dan mana yang tidak.

Dengan memahami Al-Maidah ayat 70, seorang mukmin diingatkan untuk senantiasa memeriksa niatnya: apakah ia mencari kebenaran sejati atau hanya mencari pembenaran atas tindakan dan keinginan yang sudah tertanam dalam dirinya? Kepatuhan sejati terletak pada penerimaan total terhadap petunjuk Allah, tanpa kecuali, meskipun hal itu terasa berat di awal.

🏠 Homepage