Akrilik, yang sering dikenal dengan nama dagang seperti Plexiglas atau Perspex, telah menjadi material populer pengganti kaca karena sifatnya yang ringan dan tahan pecah. Namun, seperti material lainnya, akrilik memiliki serangkaian kekurangan signifikan yang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum diaplikasikan pada proyek konstruksi, dekorasi, atau manufaktur.
Meskipun ringan dan memiliki transparansi optik yang baik, memahami keterbatasan material ini sangat penting untuk memastikan hasil jangka panjang yang memuaskan. Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai beberapa kekurangan utama dari penggunaan akrilik.
Ini adalah kelemahan paling umum dan paling sering dikeluhkan dari akrilik. Meskipun akrilik jauh lebih kuat daripada kaca dalam hal ketahanan terhadap benturan, permukaannya sangat rentan terhadap goresan. Goresan halus dapat muncul hanya dengan proses pembersihan yang kurang tepat, penggunaan bahan kimia yang keras, atau gesekan ringan.
Goresan ini tidak hanya merusak estetika material, tetapi juga dapat mengganggu kejernihan optiknya, terutama pada aplikasi yang memerlukan kejernihan tinggi seperti akuarium, pelindung layar, atau panel pajangan.
Akrilik memiliki titik lunak yang jauh lebih rendah dibandingkan kaca. Material ini mulai melunak pada suhu sekitar 100°C (212°F). Eksposur jangka panjang terhadap suhu tinggi, seperti penempatan di dekat sumber panas langsung (misalnya, pemanas atau sinar matahari terik yang terfokus), dapat menyebabkan distorsi bentuk (warping) atau bahkan meleleh. Hal ini membatasi penggunaannya dalam lingkungan yang sangat panas atau aplikasi industri tertentu.
Seiring waktu, terutama jika terpapar radiasi UV secara intensif dan terus-menerus tanpa lapisan pelindung UV (UV coating), akrilik cenderung mengalami perubahan warna menjadi kekuningan. Fenomena ini dikenal sebagai 'yellowing'. Meskipun akrilik berkualitas tinggi telah dikembangkan dengan ketahanan UV yang baik, produk murah atau yang sudah tua tetap berisiko mengalami degradasi warna ini, yang sangat merusak penampilan visualnya.
Permukaan akrilik mudah sekali menarik dan menahan muatan listrik statis. Muatan statis ini berfungsi sebagai magnet bagi debu, serat, dan partikel kecil lainnya yang ada di udara. Akibatnya, permukaan akrilik sering kali tampak lebih kotor dan membutuhkan pembersihan lebih sering daripada material seperti kaca.
Meskipun akrilik unggul dalam ketahanan benturan (tidak pecah menjadi pecahan tajam), ia memiliki kekakuan yang lebih rendah dibandingkan kaca. Dalam aplikasi di mana integritas struktural di bawah tekanan tinggi diperlukan, akrilik bisa lebih mudah melengkung atau mengalami patah yang tidak terduga jika tidak didukung dengan benar di keempat sisinya.
Secara umum, biaya bahan baku lembaran akrilik berkualitas tinggi seringkali lebih mahal per satuan luas dibandingkan dengan kaca standar dengan ketebalan yang setara. Meskipun biaya ini mungkin dapat diimbangi oleh biaya pemasangan yang lebih murah karena bobotnya yang ringan, investasi awal untuk materialnya sendiri bisa menjadi hambatan bagi beberapa proyek dengan anggaran terbatas.
Memilih antara akrilik dan material lain seperti kaca atau polikarbonat harus didasarkan pada penilaian yang jujur terhadap kebutuhan aplikasi spesifik Anda. Jika ketahanan gores dan stabilitas termal adalah prioritas utama, akrilik mungkin bukan pilihan terbaik.