Ejakulasi adalah puncak dari rangsangan seksual yang ditandai dengan keluarnya cairan semen dari uretra. Secara normal, proses ini disertai dengan sensasi kesenangan yang intens dan seringkali diikuti oleh kontraksi otot ritmis yang jelas. Namun, beberapa pria mungkin mengalami kondisi di mana mereka merasa bahwa air mani keluar tanpa disertai sensasi atau perasaan orgasme yang seharusnya. Kondisi "keluar sperma tidak terasa" ini bisa menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan tentang kesehatan seksual dan reproduksi.
Ilustrasi sederhana jalur keluarnya cairan reproduksi.
Mengapa Ejakulasi Terasa Berbeda?
Sensasi yang dirasakan saat ejakulasi melibatkan serangkaian kontraksi otot di dasar panggul dan saraf yang terlibat dalam respons seksual. Ketika sensasi ini berkurang atau bahkan hilang, ada beberapa kemungkinan penyebab yang perlu dipertimbangkan. Penting untuk membedakan antara ejakulasi yang "tidak terasa" dan kondisi lain seperti anejakulasi (ketidakmampuan ejakulasi) atau ejakulasi tertunda.
1. Faktor Neurologis dan Kerusakan Saraf
Sistem saraf memainkan peran krusial dalam mengirimkan sinyal kenikmatan dari organ genital ke otak. Jika terjadi kerusakan atau gangguan pada jalur saraf ini—seringkali akibat cedera tulang belakang, neuropati diabetik, atau efek samping operasi tertentu di area panggul—kemampuan untuk merasakan sensasi puncak (orgasme) saat ejakulasi dapat berkurang atau hilang total. Tanpa input saraf yang memadai, otak tidak dapat memproses sensasi yang seharusnya muncul.
2. Pengaruh Obat-obatan Tertentu
Salah satu penyebab paling umum dari perubahan sensasi ejakulasi adalah penggunaan obat-obatan tertentu, terutama yang memengaruhi sistem saraf pusat. Obat antidepresan, khususnya golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) yang digunakan untuk mengatasi depresi dan kecemasan, sering dilaporkan sebagai penyebab disfungsi seksual, termasuk penurunan intensitas orgasme atau keluarnya sperma tanpa rasa. Obat antihipertensi atau obat penenang tertentu juga dapat memiliki efek serupa.
3. Masalah Hormonal
Ketidakseimbangan hormon, terutama kadar testosteron yang rendah (hipogonadisme), dapat memengaruhi libido, gairah, dan juga intensitas respons orgasme. Ketika kadar hormon seks menurun, fungsi seksual secara keseluruhan dapat terganggu, yang mungkin termanifestasi sebagai ejakulasi yang kurang memuaskan atau tanpa sensasi yang jelas.
4. Kondisi Psikologis
Faktor psikologis, seperti stres berat, kecemasan kinerja, atau riwayat trauma, dapat memengaruhi respons tubuh terhadap gairah seksual. Dalam beberapa kasus, kondisi psikologis ini dapat menyebabkan disosiasi—suatu kondisi di mana pikiran terputus dari sensasi fisik—sehingga meskipun proses fisik ejakulasi terjadi, persepsi sensasinya hilang.
5. Ejakulasi Retrogad dan Kondisi Fisik Lain
Meskipun ejakulasi tanpa rasa sering dikaitkan dengan penurunan sensasi, ada kalanya kondisi fisik turut berperan. Ejakulasi retrogad, di mana air mani masuk kembali ke kandung kemih, mungkin menyebabkan volume ejakulat yang sangat sedikit, sehingga intensitas kontraksi yang dirasakan menjadi minimal atau bahkan tidak terasa sama sekali. Kondisi pasca-operasi prostat (misalnya TURP) juga dapat merusak saraf atau jaringan yang terlibat dalam kontraksi ejakulasi.
Jika kondisi 'keluar sperma tidak terasa' terjadi sesekali, terutama setelah minum obat baru atau saat sedang stres, mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, menyebabkan frustrasi signifikan, atau disertai gejala lain seperti kesulitan mencapai ereksi atau perubahan volume ejakulat, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli urologi atau andrologi. Diagnosis yang tepat diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab dasarnya, baik itu neurologis, hormonal, atau efek samping pengobatan.
Mengelola Persepsi Sensasi Ejakulasi
Penanganan sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika disebabkan oleh obat-obatan, dokter mungkin akan menyesuaikan dosis atau mengganti jenis obat setelah mempertimbangkan manfaat pengobatan utama. Untuk masalah hormonal, terapi penggantian hormon (TRT) mungkin dipertimbangkan. Di sisi lain, terapi perilaku atau konseling seksual dapat sangat membantu jika faktor psikologis menjadi penyebab utama.
Meningkatkan kesadaran tubuh dan fokus pada sensasi di sekitar organ genital sebelum dan selama klimaks, daripada hanya berfokus pada hasil ejakulasi, kadang dapat membantu memperbaiki persepsi sensasi. Teknik mindfulness seksual sering direkomendasikan untuk membantu pria terhubung kembali dengan respons tubuh mereka.
Pada akhirnya, kesehatan seksual adalah spektrum yang luas. Mengalami perbedaan dalam intensitas orgasme adalah hal yang mungkin terjadi pada pria. Komunikasi terbuka dengan pasangan dan mencari bantuan profesional adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan reproduksi dan kesejahteraan emosional Anda tetap terjaga.