Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan) adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an yang memiliki pesan mendalam mengenai hari akhir, perhitungan amal, dan tanggung jawab individu atas setiap perbuatan. Ayat ketujuh surat ini sangat fundamental karena menggambarkan kesadaran penuh manusia saat pertanggungjawaban tiba.
Ketika kita mempelajari bacaan Al-Qur'an, seringkali muncul pertanyaan spesifik mengenai lafal awal dari ayat tertentu, terutama yang berkaitan dengan penekanan atau kesinambungan makna dari ayat sebelumnya. Khusus untuk Surah Az-Zalzalah ayat 7, lafal pembukanya adalah "Fa" (فَ).
Ayat ini berbicara tentang perbuatan sekecil apa pun, baik itu kebaikan atau keburukan, yang akan ditampakkan oleh Allah SWT pada hari itu. Lafal "Fa" di sini berfungsi sebagai penghubung sebab-akibat (fa' sababiyyah) dari keadaan bumi yang digoncangkan pada ayat-ayat sebelumnya.
Lafal yang menjadi fokus utama, yaitu yang mengawali ayat ketujuh ini, berbunyi: Faman.
Jika kita memecahnya, bagian awal yang Anda cari adalah huruf "Fa" (فَ) yang disambung dengan kata "Man" (مَن). Oleh karena itu, lafal lengkapnya dimulai dengan Faman ya'mal...
Kehadiran huruf 'Fa' di awal ayat ini sangat krusial dalam memahami narasi Surah Az-Zalzalah. Ayat 1 hingga 6 telah menjelaskan kondisi dahsyat saat bumi diguncang dengan guncangan yang hebat, mengeluarkan isi perutnya, dan manusia kebingungan. Setelah gambaran horor tersebut, ayat ketujuh membuka babak baru: pertanggungjawaban individu.
Lafal "Fa" seolah berkata, "Maka (sebagai akibat dari kegemparan yang terjadi itu)..." atau "Oleh karena itu..." Pertanggungjawaban ini tidak bisa dihindari. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa tidak ada amal sekecil apa pun yang terlewat dari perhitungan Allah.
Terjemahan dari ayat ini adalah: "Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom/biji sawi), niscaya dia akan melihatnya."
Kata "zarrah" seringkali diinterpretasikan sebagai partikel terkecil yang tidak kasat mata. Ini menekankan prinsip keadilan mutlak dalam Islam: kebaikan sekecil apa pun, seperti senyum tulus atau membantu tanpa mengharapkan imbalan, akan diperhitungkan. Lafal "Fa" berfungsi sebagai jembatan dramatis dari goncangan kosmik menuju kesadaran personal mengenai amal perbuatan.
Dalam studi tajwid dan tafsir, posisi setiap huruf dan lafal awal sangat diperhatikan. Lafal "Fa" yang mengawali ayat 7 (dan juga "Fa" yang mengawali ayat 8) memastikan bahwa pesan tentang perhitungan amal (ayat 7 dan 8) merupakan konsekuensi langsung dari peristiwa gempa besar (ayat 1 sampai 6). Ketika bumi telah selesai mengguncang dan manusia terkejut, saatnya pertanggungjawaban dimulai dengan penampakan semua perbuatan.
Ayat-ayat berikutnya (ayat 8) melengkapi konteks ini dengan menyatakan, "dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya (balasannya)." Keseluruhan rangkaian ini memperkuat pesan bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah.
Oleh karena itu, ketika mengucapkan atau membaca Surah Az-Zalzalah, pengucapan lafal awal yang benar, yaitu "Faman", sangat membantu dalam mengikuti alur cerita dan penekanan yang ingin disampaikan oleh wahyu Ilahi mengenai urgensi setiap tindakan kita di dunia. Ini adalah peringatan yang universal, berlaku untuk semua umat manusia, kapan pun dan di mana pun mereka hidup.
Pemahaman mendalam tentang lafal pembuka ini membantu seorang Muslim untuk tidak meremehkan amalan kecil, baik positif maupun negatif, karena semuanya akan dipertunjukkan di hadapan Yang Maha Adil saat tiba waktunya guncangan terakhir telah usai dan catatan amal dibuka.