Dalam khazanah budaya Jawa, aksara memiliki peran yang tak terpisahkan dari sejarah, sastra, dan tradisi. Salah satu aspek yang menarik dan penuh makna dalam aksara Jawa adalah penggunaan tanda baca khusus yang dikenal sebagai "murda" atau "pratiktekan". Tanda ini bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah penanda penting yang menyiratkan tingkat kehormatan, keagungan, atau kekhususan pada suku kata yang diberi. Memahami murda aksara Jawa berarti menyelami lebih dalam filosofi di balik penulisan dan cara masyarakat Jawa menghargai penutur atau objek yang dibicarakan.
Murda, dalam konteks aksara Jawa, adalah sebuah tanda yang ditempatkan di atas suku kata tertentu, terutama pada awal kalimat, nama orang, atau kata-kata yang dianggap penting dan mulia. Fungsinya adalah untuk memberikan penekanan dan menunjukkan rasa hormat. Secara visual, murda seringkali berbentuk seperti mahkota, gelungan, atau ornamen lain yang memberikan kesan agung.
Penggunaan murda tidak berlaku untuk semua suku kata. Ia digunakan secara selektif untuk memberikan penekanan pada kata-kata yang memang memiliki nilai historis, keagamaan, kerajaan, atau personal yang tinggi. Ini mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa secara historis sangat memperhatikan hierarki sosial dan penghargaan terhadap martabat seseorang atau sesuatu.
Fungsi utama murda adalah sebagai penanda kehormatan (sense of honor). Ketika sebuah aksara diberi tanda murda, itu menandakan bahwa suku kata tersebut merujuk pada sesuatu yang memiliki kedudukan tinggi. Beberapa fungsi spesifik dari murda meliputi:
Aksara Jawa sendiri merupakan turunan dari aksara Pallawa dari India, yang kemudian berkembang dan beradaptasi dengan budaya serta bahasa Jawa. Penggunaan tanda-tanda diakritik seperti murda kemungkinan juga dipengaruhi oleh praktik penulisan di India. Seiring waktu, bentuk dan aturan penggunaan murda dalam aksara Jawa mengalami kodifikasi dan standardisasi, terutama melalui naskah-naskah sastra, lontar, dan prasasti.
Perkembangan teknologi dan metode penulisan, mulai dari daun lontar, kertas, hingga era digital, sedikit banyak memengaruhi cara aksara Jawa dipelajari dan digunakan. Namun, pemahaman tentang murda tetap relevan bagi para peneliti, budayawan, dan masyarakat yang ingin melestarikan kekayaan budaya Jawa. Dalam studi filologi atau kaligrafi aksara Jawa, penguasaan murda adalah salah satu tahapan penting.
Secara praktis, murda hanya ada pada beberapa aksara dasar. Misalnya, aksara 'ka' (ꦏ) jika diberi murda akan menjadi ꧀ꦏ (meskipun dalam penulisan modern terkadang direpresentasikan secara berbeda atau digabungkan dengan tanda lain). Contoh lain adalah bagaimana murda digunakan pada awal nama tokoh penting dalam cerita pewayangan atau nama raja-raja dalam silsilah.
Misalnya, jika kita menulis nama "Raja" atau "Sultan" dalam aksara Jawa, suku kata pertama yang merujuk pada gelar tersebut kemungkinan besar akan diberi tanda murda. Hal ini menegaskan status dan kewibawaan subjek yang sedang dibicarakan. Dalam naskah-naskah kuno, Anda akan sering menemukan tanda murda pada awal kalimat yang memuat gelar kebangsawanan atau nama-nama dewa.
Meskipun teknologi digital dan font aksara Jawa modern mungkin belum sepenuhnya mengintegrasikan fitur murda secara luas, kesadaran akan keberadaannya tetap penting. Murda bukan hanya tentang estetika tulisan, tetapi juga tentang pemahaman nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Jawa. Bagi generasi muda, mempelajari murda aksara Jawa adalah cara untuk terhubung dengan warisan nenek moyang dan memahami kekayaan linguistik yang dimiliki bangsa Indonesia.
Upaya pelestarian aksara Jawa terus dilakukan melalui berbagai komunitas, pendidikan, dan inovasi digital. Dengan memahami dan menghargai elemen-elemen seperti murda, kita turut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan aksara Jawa sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Pengetahuan tentang murda ini menunjukkan bahwa sebuah aksara tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan budaya, nilai, dan penghargaan dalam masyarakat.