Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat pertama dari Surah Al-Isra', yang juga dikenal sebagai Surah Bani Isra'il, merupakan pembuka yang sangat agung dan monumental. Ayat ini langsung menyoroti salah satu mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj.
Ayat dimulai dengan pujian agung, "Subhanallah" (Mahasuci Allah). Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa peristiwa yang akan diceritakan—yaitu perjalanan malam Nabi—adalah sebuah kejadian yang melampaui nalar dan kebiasaan manusia biasa. Hanya Allah Yang Maha Sempurna yang mampu melakukan hal tersebut. Ini menegaskan bahwa peristiwa ini adalah murni kekuasaan ilahi, bukan sekadar kisah biasa.
Frasa "أَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا" (memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam) merujuk pada perjalanan malam (Isra') dari Masjidilharam di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kata "hamba-Nya" (bi 'abdihii) menekankan kedudukan mulia Nabi Muhammad SAW di hadapan Allah, yang dipilih sebagai hamba yang paling taat dan istimewa.
Allah menegaskan bahwa Masjidil Aqsa, tujuan pertama perjalanan tersebut, adalah tempat yang telah "Kami berkahi sekelilingnya." Keberkahan ini mencakup kemuliaan sejarahnya, keberadaan para nabi sebelumnya yang beribadah di sana, serta kekayaan alam di sekitarnya. Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama.
Tujuan dari perjalanan yang luar biasa ini dijelaskan dalam frasa "لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا" (untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami). Perjalanan Isra' dan Mi'raj bukan hanya untuk menghibur Nabi setelah mengalami tahun-tahun sulit (Amul Huzn), tetapi juga untuk meneguhkan keyakinan beliau dengan menyaksikan langsung sebagian dari keagungan alam semesta dan tingkatan surga dan neraka. Ini adalah penguatan spiritual yang tak tertandingi.
Ayat ditutup dengan penegasan sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna: "اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ" (Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat). Setelah menceritakan sebuah peristiwa agung yang melibatkan indra pendengaran dan penglihatan Nabi, Allah mengingatkan bahwa Dia sendiri Maha Mendengar segala doa dan keluhan, serta Maha Melihat setiap detail dari perjalanan agung tersebut, menunjukkan pengawasan dan perhatian-Nya yang total terhadap hamba-Nya.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra Ayat 1 adalah pengantar yang kuat, menetapkan status keilahian Allah SWT, keistimewaan Nabi Muhammad SAW, dan keagungan mukjizat perjalanan malam yang mengandung hikmah mendalam bagi seluruh umat manusia.