Visualisasi konsep penyempurnaan wahyu.
Kisah kenabian adalah rangkaian panjang dari upaya Ilahi untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang lurus. Namun, dalam kurun waktu kenabian tersebut, terdapat satu puncak penutup yang menandai berakhirnya era risalah dengan kesempurnaan ajaran. Sosok yang diutus untuk menggenapi dan menyempurnakan ajaran tersebut adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Islam meyakini bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ bukanlah wahyu yang berdiri sendiri, melainkan klimaks dari seluruh ajaran yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya, mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa al-Masih. Setiap nabi membawa porsi kebenaran yang relevan dengan konteks zaman mereka, namun sering kali ajaran tersebut mengalami distorsi atau belum paripurna karena keterbatasan waktu dan kondisi sosial masyarakat saat itu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai "Khātamun Nabiyyīn" (Penutup Para Nabi). Status ini memiliki implikasi mendalam: bahwa tidak akan ada lagi nabi yang diutus setelah beliau. Ini bukan hanya soal urutan waktu, tetapi yang lebih penting adalah substansi ajaran yang dibawanya. Ajaran Islam, yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Sunnah, adalah versi final, komprehensif, dan universal dari kehendak Tuhan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Tugas utama Nabi Muhammad diutus Allah untuk menyempurnakan adalah dalam dua aspek fundamental: syariat (hukum) dan akhlak (moralitas). Sebelum kenabian beliau, berbagai masyarakat memiliki sistem hukum yang parsial. Dengan datangnya Islam, syariat menjadi utuh, mencakup seluruh aspek kehidupan—ibadah, muamalah (interaksi sosial), ekonomi, hingga tata kelola negara. Kesempurnaan ini dibuktikan dengan kemampuannya mengatasi masalah yang kompleks dengan prinsip-prinsip yang adil dan mudah dipahami.
Dalam konteks akhlak, beliau hadir untuk menambal celah-celah kebejatan moral yang merajalela di Jazirah Arab dan sekitarnya. Beliau menyempurnakan konsep kemanusiaan, menegaskan persamaan derajat antara manusia tanpa memandang ras atau status sosial, memuliakan kaum wanita, dan menempatkan keadilan sebagai fondasi utama hubungan antar sesama. Tindakan dan perkataan beliau (Sunnah) menjadi teladan praktis bagaimana ajaran sempurna tersebut diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Aspek krusial lain dari kesempurnaan risalah ini adalah jaminan pelestarian. Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang rentan terhadap perubahan oleh tangan manusia seiring berjalannya waktu, Allah menjamin kemurnian Al-Qur'an. Karena risalah ini adalah yang terakhir dan sempurna, maka penjagaan keasliannya menjadi sebuah kepastian Ilahi. Ini memastikan bahwa generasi masa kini dan masa depan dapat mengakses ajaran yang sama persis seperti yang diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ mengucapkan kalimat legendaris saat khutbah perpisahan, "Wahai manusia, sesungguhnya hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu...", hal ini menegaskan bahwa tidak ada lagi tambahan doktrinal yang diperlukan. Agama telah mencapai titik tertinggi dan terpenuhinya janji Allah. Ajaran yang dibawa beliau adalah rahmatan lil 'alamin—rahmat bagi seluruh alam—yang universalitasnya melampaui batas geografis dan etnis.
Kehadiran risalah penyempurna ini mengubah peradaban secara radikal. Dari masyarakat yang terfragmentasi dan sering berperang, lahirlah sebuah ummah (umat) yang terikat oleh akidah tunggal. Islam memberikan kerangka berpikir yang utuh, menjawab pertanyaan eksistensial manusia tentang tujuan hidup, Tuhan, dan kehidupan setelah kematian, secara final dan memuaskan akal sehat.
Oleh karena itu, memahami peran Nabi Muhammad diutus Allah untuk menyempurnakan bukan sekadar menghargai sejarah, tetapi memahami mengapa ajaran Islam saat ini tetap relevan dan utuh. Kesempurnaan ini menuntut umatnya untuk berpegang teguh pada sumber-sumber otentik yang ditinggalkan beliau, Al-Qur'an dan Sunnah, sebagai panduan hidup yang telah divalidasi dan disempurnakan oleh Sang Pencipta.
Semua elemen kehidupan, mulai dari aspek spiritual yang paling halus hingga masalah-masalah duniawi yang paling konkret, telah dicakup dalam kerangka ajaran yang dibawa oleh Nabi Agung ﷺ, menjadikannya solusi total bagi kebutuhan manusia sepanjang masa.