Imam Abu Hamid Al-Ghazali, salah satu pemikir Muslim terkemuka dalam sejarah Islam, menempatkan studi tentang akhlak (moralitas) pada posisi sentral dalam pemikirannya. Baginya, akhlak bukan sekadar seperangkat aturan perilaku luar, melainkan manifestasi dari kondisi batiniah (qalbu) seseorang. Filsafatnya tentang akhlak sangat dipengaruhi oleh upayanya mensintesis ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf.
Bagi Al-Ghazali, tujuan utama eksistensi manusia adalah mencapai kebahagiaan hakiki, yaitu ridha Allah. Proses pencapaian ini mutlak memerlukan pemurnian jiwa dan pembentukan akhlak yang mulia. Dalam karyanya yang monumental, Ihya’ Ulumiddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), beliau mendedikasikan seperempat dari isinya untuk membahas ilmu-ilmu yang berkaitan dengan jiwa dan akhlak. Ini menunjukkan betapa vitalnya aspek moralitas dalam kerangka keilmuan beliau.
Al-Ghazali membagi sifat-sifat manusia menjadi dua kategori utama: sifat tercela (madzmumah) dan sifat terpuji (mahmudah). Sifat tercela adalah penyakit hati, seperti kesombongan, dengki, cinta dunia yang berlebihan, dan amarah. Sementara itu, sifat terpuji adalah obatnya, seperti kerendahan hati, syukur, sabar, dan cinta ilahi.
Konsep perubahan akhlak menurut Al-Ghazali adalah sebuah proses evolusioner yang terstruktur. Ia menekankan bahwa akhlak bukanlah bawaan mati yang tak dapat diubah, melainkan kebiasaan (‘adah) yang dapat dibentuk melalui latihan yang konsisten. Proses ini sering diinterpretasikan melalui tiga tahapan utama:
Al-Ghazali sangat memperhatikan interaksi antara akal (rasio) dan hawa nafsu (hawa). Dalam pandangannya, akal adalah alat fundamental yang dianugerahkan Allah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun, akal sering kali dikalahkan oleh godaan hawa nafsu jika tidak dibimbing oleh cahaya spiritual dan disiplin diri.
Ia berpendapat bahwa tindakan bermoral yang dilakukan tanpa kesadaran batin hanyalah formalitas. Oleh karena itu, disiplin spiritual (mujahadah) diperlukan untuk menundukkan hawa nafsu agar akal dapat berfungsi optimal dalam memandu pembentukan akhlak yang benar. Kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi godaan hawa nafsu adalah bukti kesungguhan seseorang dalam perjalanan menuju kesempurnaan moral.
Prinsip fundamental dalam etika Al-Ghazali adalah keseimbangan, atau wasatiyyah. Setiap kebajikan berada di antara dua ekstrem yang tercela. Misalnya:
Mencapai titik tengah yang ideal ini membutuhkan kebijaksanaan praktis (hikmah) yang diasah melalui refleksi dan pengalaman spiritual. Akhlak yang sempurna adalah akhlak yang seimbang dan konsisten, yang mencerminkan harmoni antara tuntutan dunia dan tujuan akhirat.
Singkatnya, bagi Imam Al-Ghazali, akhlak adalah ilmu terpenting karena merupakan jembatan antara pengetahuan teoritis tentang agama dan realisasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik adalah cerminan dari hati yang sehat, dan hati yang sehat adalah kunci utama untuk meraih kedekatan sejati dengan Tuhan.