Pegon Artinya: Mengenal Lebih Dekat Aksara Nusantara yang Kaya Sejarah

Pegon >> Aksara Peninggalan Budaya

Dalam khazanah kebudayaan Indonesia yang kaya, terdapat berbagai bentuk peninggalan aksara yang merekam jejak peradaban. Salah satu yang menarik dan memiliki kekhasan tersendiri adalah aksara Pegon. Bagi sebagian orang, mungkin istilah ini masih terdengar asing. Namun, bagi mereka yang mendalami sejarah dan budaya Jawa, Madura, Sunda, hingga sebagian wilayah lain di Indonesia, Pegon memiliki makna penting sebagai sarana literasi dan penyebaran ilmu pengetahuan.

Apa Itu Pegon?

Secara sederhana, Pegon dapat diartikan sebagai sebuah sistem penulisan huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa-bahasa daerah di Nusantara, terutama bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Penggunaan aksara Pegon bukanlah sekadar mengganti huruf Latin dengan huruf Arab semata. Ada penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan untuk mengakomodasi fonem (bunyi) khas bahasa-bahasa daerah tersebut yang tidak dimiliki oleh bahasa Arab standar. Penyesuaian ini seringkali dilakukan dengan penambahan titik atau diakritik tertentu pada huruf Arab yang sudah ada.

Istilah "Pegon" sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Jawa "mbayong" yang berarti mengadopsi atau meminjam. Hal ini mengindikasikan bahwa aksara ini merupakan adopsi dari aksara Arab yang kemudian diadaptasi untuk keperluan lokal. Alternatif lain menyebutkan bahwa Pegon berasal dari kata "Pego" atau "Pégon" yang merujuk pada sesuatu yang berbeda atau menyimpang dari kebiasaan asli, dalam hal ini adalah penulisan bahasa daerah dengan aksara Arab.

Sejarah dan Perkembangan Aksara Pegon

Aksara Pegon mulai dikenal luas pada masa penyebaran Islam di Nusantara, sekitar abad ke-15 hingga ke-17 Masehi. Para ulama dan pendakwah menggunakan aksara Arab sebagai media utama dalam menyampaikan ajaran Islam. Seiring waktu, untuk mempermudah pemahaman masyarakat lokal yang berbahasa daerah, mereka mulai mengadaptasi aksara Arab ini. Pondok pesantren menjadi pusat pengembangan dan pembelajaran aksara Pegon. Kitab-kitab klasik berbahasa Arab diterjemahkan atau disalin ulang ke dalam bahasa daerah menggunakan aksara Pegon.

Penggunaan Pegon sangat signifikan dalam pelestarian khazanah intelektual keagamaan. Banyak karya ulama Nusantara, kitab-kitab fiqh, tafsir, tasawuf, dan sejarah ditulis dalam Pegon. Ini memungkinkan generasi penerus untuk membaca dan memahami warisan keilmuan para pendahulu tanpa harus menguasai bahasa Arab secara mendalam. Fleksibilitas Pegon membuatnya menjadi jembatan budaya dan intelektual yang sangat berharga.

Di Jawa Barat, Pegon dikenal dengan nama "Aksara Sunda Pegon" atau "Pegon Sunda," yang digunakan untuk menulis bahasa Sunda. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dominan digunakan untuk bahasa Jawa dan Madura, seringkali disebut sebagai "Pegon Jawi" atau "Pegon Madura." Perbedaan dialek dan fonem antarbahasa daerah ini memunculkan variasi-variasi kecil dalam penulisan Pegon di setiap wilayah.

Ciri Khas dan Keunikan Pegon

Keunikan utama aksara Pegon terletak pada modifikasinya terhadap huruf-huruf Arab. Contohnya, untuk merepresentasikan bunyi 'ca', 'nga', 'nya', 'pa', dan 'nya' dalam bahasa Jawa yang tidak ada dalam bahasa Arab, digunakan kombinasi huruf Arab dengan penambahan titik di atas atau di bawahnya. Misalnya, huruf Jim (ج) bisa ditambahkan titik di atas menjadi 'ca', atau huruf Nun (ن) dengan dua titik di bawah menjadi 'nya'.

Penyesuaian ini menunjukkan kecerdasan dan kreativitas para ulama dan cendekiawan Nusantara dalam mengadaptasi sistem penulisan asing agar sesuai dengan kebutuhan lokal, tanpa kehilangan esensi dari aksara aslinya.

Selain modifikasi huruf, Pegon juga sering menggunakan tanda-tanda baca dan penunjuk harakat (vokal) yang khas untuk membantu pelafalan yang tepat sesuai bahasa daerah. Hal ini sangat penting untuk menghindari ambiguitas dan memastikan pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan benar oleh pembaca yang terbiasa dengan tata bahasa dan fonetik bahasa daerahnya.

Relevansi Pegon di Era Modern

Meskipun aksara Latin kini mendominasi komunikasi tertulis di Indonesia, aksara Pegon tidak sepenuhnya punah. Perannya masih sangat terasa, terutama dalam lingkungan pendidikan keagamaan, seperti pondok pesantren salafiyah. Banyak kitab kuning dan karya-karya ulama lokal yang masih dicetak dan diajarkan menggunakan aksara Pegon.

Lebih dari sekadar alat tulis, Pegon adalah warisan budaya yang menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia mampu mengadopsi dan mengolah unsur asing menjadi sesuatu yang khas Nusantara. Mempelajari Pegon berarti membuka jendela ke masa lalu, memahami bagaimana pemikiran, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan disebarkan sebelum era modern. Ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap tradisi literasi yang telah berkembang selama berabad-abad.

Upaya pelestarian Pegon terus dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan, akademisi, hingga komunitas pegiat budaya. Mengingat kembali arti dan sejarah Pegon adalah langkah penting untuk menjaga kekayaan intelektual dan budaya bangsa agar tetap lestari dan relevan bagi generasi mendatang. Pegon bukan sekadar aksara, ia adalah denyut nadi sejarah dan identitas budaya Nusantara.

🏠 Homepage