Al-Maidah Ayat 16 Beserta Artinya Lengkap

Simbol Cahaya dan Kitab Suci

Berikut adalah teks lengkap dari Surah Al-Maidah ayat ke-16, beserta terjemahan dan sedikit penjelasannya.

Q.S. Al-Maidah Ayat 16

قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ ۝ أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ
Artinya: Katakanlah: "Berita apakah yang lebih besar dari Al-Qur'an?" Mereka berpaling darinya (sebagai tanda keingkaran).

Konteks dan Makna Ayat

Ayat ke-16 dari Surah Al-Maidah ini merupakan penekanan luar biasa dari Allah SWT, disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad SAW, mengenai keagungan dan signifikansi Al-Qur'an. Ketika ayat ini diturunkan, seringkali terdapat perdebatan sengit antara kaum musyrikin Mekah atau Yahudi Madinah dengan kaum Muslimin mengenai kebenaran wahyu yang dibawa Nabi.

Pertanyaan retoris, "Katakanlah: 'Berita apakah yang lebih besar dari Al-Qur'an?'" (قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ), mengandung makna yang sangat mendalam. Tidak ada satu pun berita, kisah kenabian, hukum syariat, atau janji ilahi yang lebih agung, lebih penting, dan lebih otentik kebenarannya dibandingkan Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah inti dari ajaran tauhid, penjelasan mengenai hari kiamat, kisah para nabi terdahulu, dan panduan hidup yang sempurna.

Namun, respons yang menyertai penegasan kebesaran ini sangat menyedihkan: "Mereka berpaling darinya (sebagai tanda keingkaran)" (أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ). Kata "berpaling" (إِعْرَاض) menunjukkan penolakan aktif dan kesombongan. Mereka tidak hanya tidak percaya, tetapi mereka secara sengaja memalingkan diri dari kebenaran yang jelas dan agung ini. Ini adalah ciri khas orang-orang yang hatinya telah tertutup oleh kesombongan, hawa nafsu, dan kecintaan duniawi.

Signifikansi Hidayah dalam Al-Maidah

Surah Al-Maidah sendiri dikenal sebagai surah yang banyak membahas penetapan hukum-hukum syariat, perjanjian, dan peringatan keras kepada Bani Israil serta umat Islam agar tidak meneladani kesalahan mereka di masa lalu. Ayat 16 ini berfungsi sebagai pengingat universal bahwa sumber utama hidayah (petunjuk) adalah Al-Qur'an.

Ketika manusia berpaling dari Al-Qur'an, mereka kehilangan kompas moral dan spiritual mereka. Mereka mencari berita atau kebenaran di tempat lain—entah dari filsafat duniawi, tradisi nenek moyang yang menyimpang, atau tuntutan nafsu sesaat—padahal berita terbesar dan paling hakiki sudah tersedia di hadapan mereka. Konsekuensi dari berpaling ini, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya dalam surah yang sama, adalah kesesatan dan kegelapan batin.

Oleh karena itu, ayat ini bukan sekadar pertanyaan retoris untuk dijawab, melainkan sebuah tantangan keras kepada setiap pendengar: Apakah Anda benar-benar telah menimbang semua berita di dunia ini dan memutuskan bahwa Al-Qur'an bukanlah yang paling besar? Kenyataan pahitnya adalah, bagi banyak orang pada masa itu (dan bahkan hingga kini), mereka memilih untuk tetap berpaling karena mengakui kebesaran Al-Qur'an berarti harus mengubah seluruh cara hidup mereka, sesuatu yang sangat sulit dilakukan oleh jiwa yang sombong dan terbiasa dalam kesesatan.

Inti dari pesan ini adalah seruan untuk kembali fokus kepada Kitabullah. Al-Qur'an adalah *an-naba'ul 'adzim* (berita besar) yang menjanjikan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat, asalkan umat manusia bersedia membuka hati dan berhenti dari sikap berpaling yang merugikan diri sendiri.

🏠 Homepage