Ilustrasi analisis mikroskopis
Pasangan yang menantikan kehamilan seringkali fokus pada kesuburan wanita, namun kesuburan pria memainkan peran yang sama pentingnya. Salah satu alat diagnostik paling mendasar dan informatif untuk menilai potensi kesuburan pria adalah melalui **pengecekan sperma**, atau yang lebih dikenal sebagai analisis semen. Prosedur ini memberikan gambaran rinci mengenai kualitas dan kuantitas sperma yang dihasilkan.
Statistik menunjukkan bahwa sekitar 40-50% kasus infertilitas disebabkan oleh faktor pria. Analisis semen adalah langkah pertama yang krusial karena dapat mengidentifikasi masalah struktural atau fungsional pada sperma sebelum melangkah ke pengujian yang lebih invasif atau mahal. Mendapatkan hasil yang jelas sangat membantu dokter dalam menentukan langkah pengobatan terbaik, mulai dari perubahan gaya hidup hingga intervensi medis seperti IUI (Intrauterine Insemination) atau IVF (In Vitro Fertilization).
Pengecekan ini tidak hanya melihat jumlah sperma, tetapi juga mengevaluasi karakteristik vital lainnya yang sangat memengaruhi kemampuan sperma untuk mencapai dan membuahi sel telur. Pemeriksaan rutin ini sangat disarankan jika pasangan telah mencoba hamil secara teratur selama satu tahun tanpa keberhasilan (bagi pasangan di bawah 35 tahun) atau enam bulan (bagi pasangan di atas 35 tahun).
Hasil dari pengecekan sperma akan dianalisis berdasarkan beberapa parameter standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Memahami parameter ini dapat membantu Anda menginterpretasikan laporan Anda dengan lebih baik:
Prosedur pengambilan sampel biasanya dilakukan melalui masturbasi di fasilitas klinik atau laboratorium yang telah disediakan. Pasien akan diminta untuk memberikan sampel setelah periode pantang ejakulasi selama 2 hingga 5 hari. Periode pantang ini penting untuk memastikan hasil yang paling akurat, karena ejakulasi terlalu sering dapat menurunkan jumlah sperma.
Setelah sampel diterima, teknisi laboratorium akan segera menganalisisnya di bawah mikroskop. Proses analisis ini biasanya dilakukan dalam waktu satu jam setelah ejakulasi untuk memastikan viabilitas dan motilitas sperma masih optimal.
Beberapa faktor eksternal dan gaya hidup dapat memengaruhi hasil pengecekan sperma Anda. Kesadaran akan faktor-faktor ini sangat penting untuk memaksimalkan peluang mendapatkan hasil yang baik. Peningkatan suhu skrotum, misalnya karena penggunaan laptop di pangkuan, mandi air panas terlalu sering, atau pakaian dalam yang terlalu ketat, dapat menurunkan produksi dan kualitas sperma.
Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, penggunaan narkoba, obesitas, dan stres emosional kronis juga telah terbukti berdampak negatif pada parameter semen. Jika hasil awal menunjukkan adanya kelainan (misalnya, oligospermia—jumlah sperma rendah, atau asthenozoospermia—motilitas buruk), dokter mungkin akan merekomendasikan pengujian ulang setelah beberapa minggu atau bulan untuk mengonfirmasi temuan tersebut, sekaligus memberikan waktu untuk perbaikan gaya hidup. Pengecekan sperma adalah gerbang pertama menuju pemahaman mendalam tentang kesuburan pria dan langkah awal yang pasti menuju solusi kehamilan.