Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Cahaya Petunjuk
Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, membawa banyak sekali ajaran penting, terutama mengenai hukum, etika sosial, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Di antara ayat-ayat yang sarat hikmah, **Surat Al-Ma'idah ayat 76** menempati posisi penting dalam menjelaskan pandangan Islam terhadap penyembahan selain Allah SWT. Ayat ini memberikan peringatan keras namun penuh pemahaman tentang kesesatan menyembah berhala atau entitas selain Pencipta alam semesta.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Ma'idah Ayat 76
Ayat ini secara langsung berbicara kepada umat manusia, mengingatkan mereka akan hakikat tauhid (keesaan Allah) dan bahaya syirik (menyekutukan Allah).
Katakanlah: "Mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak mempunyai kuasa sama sekali untuk memberi kemudaratan dan kemanfaatan kepadamu?" Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Ataukah sama gelap gulita dengan terang?" Sekali-kali tidak demikian. Sesungguhnya mereka telah menjadikan setan-semuitan sebagai teman penolong selain Allah. Apakah mereka mengira bahwa (setan-setan) itu dapat memberi manfaat kepada mereka? (Katakanlah): "Apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memiliki kuasa menolak bahaya dari dirimu dan mendatangkan manfaat kepadamu?" Dan Allah jualah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kajian Mendalam: Hakikat Kekuasaan yang Sejati
Inti dari Al-Ma'idah ayat 76 adalah sebuah pertanyaan retoris yang tajam: Mengapa manusia menyembah sesuatu selain Allah, padahal objek sembahan itu sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat (naf') maupun menolak bahaya (dharar)?
Dalam perspektif Islam, ibadah dan penghambaan adalah puncak ketundukan. Penghambaan yang benar hanya layak ditujukan kepada Dzat yang Mahakuasa, yaitu Allah SWT, Sang Pencipta yang menguasai seluruh aspek kehidupan dan kematian. Berhala, benda mati, hawa nafsu, atau bahkan tokoh-tokoh yang diagung-agungkan, semuanya berada dalam ranah makhluk yang terbatas. Mereka tidak dapat menentukan nasib, rezeki, sakit, atau sehat bagi penyembahnya.
Kontras antara Kebenaran dan Kesesatan
Ayat ini juga menggunakan perumpamaan yang sangat kuat: perbandingan antara orang buta dan orang yang bisa melihat, serta antara kegelapan dan cahaya. Orang yang menyembah selain Allah diibaratkan seperti orang buta yang tersesat dalam kegelapan. Mereka tidak mampu melihat kebenaran (cahaya petunjuk) yang dibawa oleh wahyu ilahi. Sebaliknya, orang yang mentauhidkan Allah diibaratkan seperti orang yang melihat dan berada dalam terang benderang petunjuk-Nya.
Perbedaan antara petunjuk (cahaya) dan kesesatan (kegelapan) adalah perbedaan fundamental dalam cara pandang terhadap realitas. Orang yang tersesat sibuk mencari perlindungan dan pertolongan pada sumber daya yang lemah dan fana, sementara orang yang beriman bersandar penuh pada Al-Qadir (Yang Maha Kuasa).
Bahaya Menjadikan Setan sebagai Teman Penolong
Bagian akhir ayat tersebut menyoroti konsekuensi dari perbuatan syirik: mereka menjadikan setan sebagai teman penolong selain Allah. Ini bukan berarti mereka secara fisik menyembah setan, melainkan bahwa pilihan mereka untuk berpaling dari ajaran Allah dan mengikuti hawa nafsu serta tipu daya duniawi adalah bentuk ketaatan kepada jalur setan. Setan adalah musuh nyata manusia, yang tugasnya adalah menyesatkan dari jalan yang lurus.
Ketika manusia memilih objek sembahan yang tidak memiliki kuasa, sesungguhnya mereka sedang tertipu. Mereka berharap mendapatkan manfaat dari suatu kekosongan kekuasaan. Allah mengingatkan bahwa harapan palsu ini sia-sia. Allah SWT adalah As-Sami' (Maha Mendengar) doa dan permintaan yang tulus, serta Al-'Alim (Maha Mengetahui) segala niat dan perbuatan hamba-Nya. Dia mendengar seruan yang tertuju kepada-Nya, dan Dia mengetahui siapa yang benar-benar bergantung kepada-Nya.
Relevansi Kontemporer
Meskipun konteks awal ayat ini mungkin merujuk pada praktik politeisme di masa kenabian, relevansi Surat Al-Ma'idah ayat 76 tetap abadi. Dalam era modern, bentuk penyembahan bisa jadi lebih halus. Seseorang mungkin tidak menyembah patung, tetapi ia bisa menyembah:
- Kekayaan materi (materialisme), di mana harta menjadi prioritas tertinggi yang menentukan keputusan hidup.
- Jabatan dan kekuasaan, di mana loyalitas lebih ditujukan kepada posisi daripada prinsip ilahi.
- Kesenangan duniawi (hawa nafsu) yang mendominasi dan mengalahkan akal sehat.
Semua bentuk ketergantungan ekstrem yang menempatkan sesuatu selain Allah sebagai penentu utama kebahagiaan dan keamanan adalah bentuk penyimpangan dari makna sejati ayat ini. Ayat ini mengajak setiap muslim untuk melakukan audit spiritual: Di manakah letak ketergantungan terbesar kita? Apakah pada sumber daya yang terbatas, atau pada Sang Sumber Segala Kekuatan yang tidak terbatas?
Oleh karena itu, merenungkan Al-Ma'idah ayat 76 adalah upaya memurnikan niat dan menguatkan fondasi keimanan. Ini adalah seruan untuk kembali melihat kebenaran hakiki, keluar dari kegelapan keraguan, dan berjalan di bawah cahaya petunjuk Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu.