Memahami Penularan HIV dan AIDS: Fakta Penting

Jalur Penularan

Ilustrasi jalur utama penularan virus.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4. Jika tidak diobati, infeksi HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), tahap akhir dari infeksi HIV.

Memahami bagaimana HIV menular adalah langkah krusial dalam upaya pencegahan. Penting untuk ditekankan bahwa HIV tidak menular melalui kontak kasual seperti berpegangan tangan, berpelukan, berbagi peralatan makan, atau melalui udara dan gigitan nyamuk. Penularan hanya terjadi ketika cairan tubuh tertentu yang mengandung virus dalam jumlah yang cukup masuk ke dalam aliran darah orang lain.

Cairan Tubuh Penular HIV

Hanya ada empat cairan tubuh utama yang terbukti dapat menularkan HIV:

Rute Utama Penularan

Berdasarkan cairan tubuh di atas, penularan HIV terjadi melalui tiga cara utama:

1. Hubungan Seksual Tanpa Kondom

Ini adalah rute penularan yang paling umum secara global. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal (pria ke wanita atau wanita ke pria) maupun anal (pria ke pria atau wanita ke pria). Risiko terbesar ada pada hubungan seks anal karena lapisan dinding rektum lebih tipis dan rentan robek, memungkinkan virus masuk ke aliran darah lebih mudah. Meskipun risiko pada seks oral lebih rendah, risiko tersebut tetap ada, terutama jika terdapat luka atau peradangan pada mulut atau alat kelamin.

2. Berbagi Jarum Suntik atau Alat Suntik (Narkoba Suntik)

Penggunaan jarum suntik bersama, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik, adalah cara penularan yang sangat efisien. Jika jarum yang terkontaminasi digunakan untuk menyuntikkan obat, virus dapat langsung masuk ke dalam darah orang berikutnya. Praktik serupa juga berisiko dalam konteks alat medis yang tidak steril, namun di fasilitas kesehatan modern risiko ini sangat diminimalkan.

3. Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA)

Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada anaknya melalui tiga cara: saat kehamilan (melalui plasenta), saat persalinan (kontak dengan cairan vagina dan darah ibu), atau melalui pemberian ASI setelah bayi lahir. Untungnya, dengan terapi antiretroviral (ARV) yang tepat selama kehamilan dan persalinan, serta pilihan pengganti ASI, risiko penularan dari ibu ke anak dapat diturunkan hingga kurang dari 1%.

Pencegahan dan Kesalahpahaman

Kunci untuk menghentikan penularan adalah dengan menghindari kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Pencegahan paling efektif meliputi:

HIV bukanlah penyakit yang menular melalui sentuhan sehari-hari. Memahami jalur penularan yang benar membantu menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS).

Meskipun HIV belum dapat disembuhkan, pengobatan modern telah memungkinkan orang yang hidup dengan HIV untuk memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum. Diagnosis dini dan kepatuhan terhadap pengobatan adalah fondasi untuk hidup sehat dan mengakhiri stigma.

🏠 Homepage