Penyakit HIV/AIDS tergolong penyakit yang membawa stigma sosial yang mendalam, namun secara medis dan epidemiologis, ia diklasifikasikan sebagai infeksi virus kronis yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menargetkan sel CD4 (sel T helper), yang merupakan komponen vital dalam sistem pertahanan tubuh. Tanpa pengobatan, penurunan jumlah sel CD4 akan membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan tertentu, yang kemudian berkembang menjadi kondisi yang dikenal sebagai AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).
HIV/AIDS Tergolong Penyakit Menular Seksual (PMS)
Salah satu aspek paling penting dalam pemahaman mengenai HIV/AIDS adalah klasifikasinya sebagai penyakit yang ditularkan melalui cairan tubuh tertentu. Penularan utama terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom (anal, vaginal, atau oral), kontak dengan darah terinfeksi (misalnya berbagi jarum suntik), dan dari ibu hamil ke bayinya selama persalinan atau menyusui.
Karena jalur penularan seksual adalah yang paling dominan secara global, HIV/AIDS seringkali digolongkan dalam kategori Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Infeksi Menular Seksual (IMS). Penggolongan ini menekankan perlunya edukasi seksual yang komprehensif dan praktik seks aman untuk memutus rantai penularan. Meskipun bukan satu-satunya cara penularan, peran sebagai PMS menempatkannya dalam konteks kesehatan reproduksi dan pencegahan IMS lainnya.
Implikasi Medis: Dari Infeksi Kronis Menuju AIDS
Penting untuk diingat bahwa HIV dan AIDS adalah dua tahap dari penyakit yang sama. Tahap awal adalah infeksi HIV, di mana virus bereplikasi secara perlahan. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, terutama terapi antiretroviral (ARV), penyakit HIV tergolong penyakit yang dapat dikelola layaknya penyakit kronis lainnya (seperti diabetes atau hipertensi), asalkan pasien patuh minum obat.
ARV bekerja dengan menekan replikasi virus, sehingga jumlah virus dalam darah menjadi sangat rendah (ditekan hingga tidak terdeteksi). Ketika viral load tidak terdeteksi, individu tersebut tidak hanya hidup sehat, tetapi juga tidak dapat menularkan virus kepada pasangan seksualnya (konsep Undetectable = Untransmittable atau U=U).
AIDS didefinisikan ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat rusak (jumlah sel CD4 di bawah 200 sel/mm³) dan muncul penyakit atau infeksi oportunistik seperti Pneumocystis Pneumonia (PCP), Sarkoma Kaposi, atau TBC berat. Oleh karena itu, tujuannya adalah mencegah perkembangan dari HIV menjadi AIDS.
Mengatasi Stigma dan Diskriminasi
Stigma seputar penyakit HIV AIDS tergolong penyakit sering kali lebih berbahaya daripada virus itu sendiri. Ketakutan dan kesalahpahaman membuat banyak orang enggan melakukan tes, mencari pengobatan, atau mengungkapkan status mereka kepada pasangan. Hal ini justru memperburuk penyebaran epidemi dan menyebabkan penderitaan psikososial.
Pemerintah dan organisasi kesehatan dunia terus mengkampanyekan bahwa HIV bukan hukuman mati. Dengan diagnosis dini dan akses yang merata terhadap ARV, orang dengan HIV (ODHA) dapat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum. Mengedukasi masyarakat bahwa penularan hanya terjadi melalui jalur spesifik, dan bukan melalui sentuhan sehari-hari, adalah kunci untuk mengurangi diskriminasi.
Klasifikasi HIV/AIDS terus berkembang dalam pemahaman kita. Ia adalah penyakit infeksius, infeksi menular seksual, dan penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang. Memahami klasifikasi ini membantu dalam merumuskan strategi pencegahan, pengobatan, dan penanganan isu sosial yang menyertainya secara lebih efektif dan manusiawi.