Volume air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi dapat bervariasi pada setiap pria, dan fluktuasi ini adalah hal yang wajar. Namun, jika penurunan volume terjadi secara signifikan dan berkelanjutan, ini mungkin menjadi perhatian bagi sebagian pria. Memahami penyebab air mani berkurang sangat penting untuk menentukan apakah kondisi ini memerlukan perhatian medis atau hanya respons normal tubuh terhadap gaya hidup tertentu.
Secara umum, volume ejakulasi normal berkisar antara 1,5 ml hingga 5 ml. Penurunan drastis di bawah batas normal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari hal sederhana seperti frekuensi ejakulasi hingga kondisi medis yang lebih kompleks.
Banyak penyebab volume air mani yang menurun berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari. Faktor-faktor ini seringkali bersifat sementara dan dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup:
Beberapa kondisi kesehatan dan perubahan fisik juga berperan penting dalam menentukan volume air mani:
Beberapa jenis obat-obatan memiliki efek samping yang dapat mengurangi volume air mani. Misalnya, obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengontrol tekanan darah (seperti penghambat alfa/alpha blockers) atau beberapa antidepresan seringkali dilaporkan menyebabkan kondisi yang disebut ejakulasi retrograde atau penurunan volume.
Selain itu, operasi yang melibatkan area panggul atau prostat, seperti prosedur pengangkatan prostat (prostatektomi), secara alami akan mengurangi atau menghilangkan produksi cairan seminal karena kerusakan pada kelenjar penghasil cairan tersebut.
Kecemasan kinerja atau masalah psikologis lainnya juga bisa menjadi penghambat. Meskipun ini lebih sering dikaitkan dengan disfungsi ereksi, tekanan mental yang intens saat berhubungan seksual dapat memengaruhi respons fisiologis tubuh, termasuk kemampuan untuk mencapai ejakulasi penuh.
Penurunan volume air mani sesekali seringkali tidak berbahaya. Namun, Anda harus mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau urologi jika Anda mengalami:
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, meninjau riwayat medis, dan mungkin merekomendasikan tes darah untuk memeriksa kadar hormon atau analisis air mani untuk mengidentifikasi akar penyebab air mani berkurang dan memberikan penanganan yang tepat.