Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan petunjuk moral, kisah kenabian, dan prinsip-prinsip sosial. Ayat ke-24 dari surat ini merupakan bagian penting dari serangkaian perintah Allah SWT kepada manusia, khususnya berkaitan dengan etika dan perilaku terhadap orang tua.
Ayat ini menegaskan sebuah prinsip fundamental dalam Islam: penghormatan tertinggi setelah ketaatan mutlak kepada Allah adalah berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Ayat ini seringkali disebutkan berdekatan dengan ayat yang melarang durhaka atau membentak orang tua, menekankan bahwa hubungan ini harus dijaga dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Ilustrasi Kerendahan Hati dan Dukungan
Terjemahan: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya karena penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.'" (QS. Al-Isra: 24)
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "akhfid lahuma janāḥa-dh-dhulli minar raḥmah". Secara harfiah, ini berarti 'merendahkan sayap kehinaan (atau kerendahan hati) karena rahmat'. Dalam budaya Arab kuno, merendahkan sayap adalah tindakan burung induk yang menaungi anaknya sebagai tanda kasih sayang, perlindungan, dan kerendahan hati total. Ketika diterapkan pada hubungan anak dengan orang tua, ini menuntut sikap yang sangat lembut dan tidak sombong.
Ayat ini tidak hanya melarang tindakan kasar (seperti membentak), tetapi secara positif memerintahkan implementasi kelembutan. Ini meliputi:
Di tengah modernitas, di mana generasi muda seringkali memiliki mobilitas tinggi dan prioritas karier yang mendesak, ayat ini menjadi pengingat kuat akan tanggung jawab moral yang tidak lekang oleh waktu. Tantangan terbesar muncul ketika terjadi perbedaan pandangan antara generasi. Ayat 24 Al-Isra mengajarkan bahwa perbedaan itu harus ditanggapi dengan kelembutan ekstrem, bukan dengan superioritas intelektual atau finansial.
Apabila orang tua telah renta dan mungkin memerlukan perawatan intensif, kewajiban berbakti ini mencapai puncaknya. Merawat orang tua yang lemah adalah ujian kesabaran yang besar. Ayat ini menyediakan resep spiritualnya: lakukan dengan rahmat, penuh kasih sayang, dan senantiasa memohonkan rahmat Ilahi untuk mereka. Ayat ini menegaskan bahwa pengabdian anak kepada orang tua adalah refleksi langsung dari pemahaman anak terhadap rahmat Allah.
Pada dasarnya, Al-Isra ayat 24 adalah instruksi untuk mengubah rasa syukur menjadi tindakan nyata berupa kerendahan hati yang tulus dan doa yang berkelanjutan. Ini adalah fondasi etika sosial Islam yang menjamin harmoni keluarga dan keberkahan hidup individu.