Konsistensi air mani atau semen adalah salah satu indikator penting kesehatan reproduksi pria. Setelah ejakulasi, air mani biasanya akan mencair setelah beberapa menit. Namun, jika cairan yang keluar terasa sangat encer, seperti air putih, ini seringkali menimbulkan kekhawatiran. Perubahan konsistensi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gaya hidup sederhana hingga kondisi medis yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Secara normal, air mani yang baru keluar memiliki tekstur yang kental, seperti gel, berwarna putih keabu-abuan atau sedikit kekuningan. Konsistensi ini dihasilkan oleh kombinasi cairan dari testis, kelenjar prostat, dan vesikula seminalis. Zat pembentuk kekentalan ini (seperti protein dan fruktosa) bertujuan melindungi sperma dan memudahkannya bergerak menuju sel telur saat proses pembuahan.
Ketika air mani menjadi tidak kental atau terlalu encer, ini bisa berarti salah satu dari komponen pembentuk tersebut berkurang atau terjadi perubahan komposisi cairan.
Sering kali, perubahan sementara pada tekstur air mani disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dikontrol melalui perubahan gaya hidup:
Ini adalah penyebab paling umum. Jika Anda sering berejakulasi (misalnya beberapa kali dalam sehari), volume total produksi cairan mungkin menurun drastis. Kelenjar membutuhkan waktu untuk memproduksi kembali cairan prostat dan cairan seminalis yang kaya protein, sehingga ejakulasi berikutnya akan tampak lebih cair karena dominasi cairan sperma yang lebih sedikit.
Air mani sebagian besar terdiri dari air. Jika tubuh mengalami dehidrasi, tubuh akan memprioritaskan fungsi vital lainnya dan mengurangi produksi cairan yang tidak esensial, termasuk cairan semen. Kekurangan cairan membuat seluruh sekresi tubuh, termasuk air mani, menjadi lebih encer.
Defisiensi nutrisi tertentu dapat memengaruhi produksi cairan reproduksi. Kekurangan zinc (seng), misalnya, telah dikaitkan dengan penurunan volume dan kualitas air mani. Zinc sangat penting dalam menjaga integritas struktural sperma dan cairan pembantunya.
Meskipun seringkali tidak berbahaya, konsistensi yang secara konsisten encer atau seperti air bisa menjadi gejala dari kondisi medis tertentu:
Varikokel adalah pembengkakan pada pembuluh darah di skrotum. Kondisi ini dapat meningkatkan suhu di area testis, yang mana suhu tinggi dikenal dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi sperma serta cairan semen.
Infeksi pada prostat (prostatitis) atau epididimis (epididimitis) dapat mengubah komposisi kimiawi air mani. Peradangan ini seringkali membuat air mani terlihat lebih cair, kadang disertai perubahan warna (kekuningan) atau nyeri saat ejakulasi.
Kelenjar prostat dan vesikula seminalis bertanggung jawab atas sebagian besar volume air mani. Jika salah satu kelenjar ini tidak berfungsi optimal—misalnya karena sumbatan atau gangguan fungsi—cairan yang dihasilkan mungkin tidak cukup kental atau volumenya berkurang.
Meskipun bukan penyebab langsung kekentalan, ketika jumlah sperma sangat rendah, volume cairan pendukung mungkin tampak lebih dominan, menghasilkan ejakulat yang terlihat lebih encer daripada biasanya.
Jika air mani Anda secara konsisten sangat encer selama beberapa minggu, disertai gejala lain seperti:
Maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau urologi. Dokter dapat melakukan analisis sperma (semen analitik) untuk mengukur viskositas, pH, jumlah sperma, dan motilitasnya, sehingga dapat ditentukan penyebab pastinya dan penanganan yang tepat dapat diberikan.