Penyebab Sperma Teratozoospermia: Mengupas Masalah Morfologi Sperma
Ilustrasi Morfologi Sperma Abnormal
Teratozoospermia adalah kondisi medis yang didefinisikan oleh adanya persentase abnormalitas bentuk (morfologi) sperma yang tinggi dalam sampel air mani. Morfologi sperma sangat krusial karena bentuk yang normal memungkinkan sperma untuk bergerak secara efisien menuju sel telur dan berhasil menembus dinding sel telur saat pembuahan terjadi. Ketika persentase sperma yang bermorfologi normal berada di bawah ambang batas yang ditetapkan (biasanya kurang dari 4% menurut standar WHO), pasangan mungkin mengalami kesulitan untuk mencapai kehamilan alami.
Memahami penyebab sperma teratozoospermia sangat penting untuk menentukan langkah penanganan yang paling efektif. Penyebabnya bisa bervariasi, mulai dari faktor genetik hingga paparan lingkungan.
Faktor Utama Penyebab Teratozoospermia
Penyebab dari morfologi sperma yang buruk seringkali multifaktorial. Dalam banyak kasus, penyebab pastinya tetap tidak diketahui (idiopatik), namun ada beberapa faktor risiko utama yang telah teridentifikasi:
1. Gangguan Produksi Sperma (Spermatogenesis)
Pembentukan sperma adalah proses yang sangat kompleks dan sensitif. Kesalahan selama proses pembelahan sel di testis dapat mengakibatkan sperma yang cacat bentuk.
Varikokel: Pembengkakan pembuluh darah di skrotum yang meningkatkan suhu lokal di testis. Peningkatan suhu ini diketahui merusak proses spermatogenesis, menghasilkan sperma dengan bentuk yang tidak standar.
Infeksi dan Peradangan: Infeksi pada saluran reproduksi pria (seperti epididimitis atau orchitis) dapat mengganggu lingkungan tempat sperma berkembang dan matang, menyebabkan cacat struktural.
Masalah Hormonal: Ketidakseimbangan hormon, terutama testosteron dan hormon perangsang folikel (FSH), dapat mempengaruhi kualitas produksi sperma.
2. Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup
Paparan terhadap zat-zat tertentu dan pilihan gaya hidup sehari-hari memiliki dampak signifikan terhadap kualitas sperma:
Paparan Panas: Sering menggunakan sauna, mandi air panas terlalu lama, atau meletakkan laptop langsung di pangkuan dapat meningkatkan suhu skrotum dan mengganggu pembentukan sperma normal.
Toksin dan Bahan Kimia: Paparan pestisida, pelarut industri, logam berat (seperti timbal), dan polutan lingkungan lainnya dapat merusak DNA dalam sperma atau mengganggu fungsi sel reproduksi.
Merokok dan Alkohol: Konsumsi rokok yang berlebihan dan asupan alkohol tinggi telah dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma secara keseluruhan, termasuk peningkatan tingkat teratozoospermia.
Obesitas: Kelebihan berat badan dapat menyebabkan perubahan hormonal dan peningkatan suhu lokal di area testis, yang berkontribusi pada morfologi sperma yang buruk.
3. Faktor Genetik dan Kromosom
Faktor genetik adalah kontributor penting dari penyebab sperma teratozoospermia yang parah:
Kelainan Kromosom: Kelainan struktural atau jumlah kromosom pada sperma dapat menyebabkan bentuk yang abnormal.
Mutasi Gen: Beberapa gen spesifik yang berperan dalam pembentukan flagel (ekor) atau akrosom (kepala) sperma jika bermutasi dapat menghasilkan cacat struktural yang signifikan.
Mikrodelesi Y: Hilangnya bagian kecil dari kromosom Y dapat memengaruhi kesuburan pria.
4. Kondisi Medis Lainnya
Beberapa kondisi medis kronis juga dapat memicu teratozoospermia:
Diabetes Melitus yang Tidak Terkontrol: Gula darah tinggi dapat menyebabkan stres oksidatif yang merusak sperma saat masih dalam proses pematangan.
Penyakit Celiac: Meskipun tidak secara langsung, malabsorpsi nutrisi yang disebabkan oleh penyakit celiac dapat memengaruhi produksi sperma berkualitas.
Pengobatan Tertentu: Beberapa terapi, seperti kemoterapi atau terapi radiasi untuk kanker, dapat menyebabkan kerusakan permanen atau sementara pada sel penghasil sperma.
Dampak Teratozoospermia pada Kesuburan
Meskipun jumlah sperma (konsentrasi) dan kemampuan bergerak (motilitas) juga penting, morfologi adalah penentu kunci keberhasilan pembuahan alami. Sperma dengan bentuk kepala abnormal mungkin tidak dapat membawa materi genetik secara efektif atau gagal menembus lapisan luar sel telur. Bahkan jika pembuahan terjadi melalui Fertilisasi In Vitro (IVF), morfologi yang buruk kadang dikaitkan dengan tingkat implantasi yang lebih rendah.
Langkah Selanjutnya Setelah Diagnosis
Jika diagnosis teratozoospermia ditegakkan, langkah selanjutnya biasanya melibatkan evaluasi mendalam terhadap faktor gaya hidup dan medis yang mungkin berkontribusi. Dalam kasus yang disebabkan oleh varikokel, perbaikan melalui pembedahan mungkin dianjurkan. Untuk kasus yang idiopatik atau genetik, biasanya dokter akan menyarankan teknik reproduksi berbantu, seperti ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), di mana ahli embriologi memilih satu sperma tunggal dengan morfologi terbaik untuk menyuntikkan langsung ke dalam sel telur.