Ilustrasi: Fondasi Keimanan dan Ketaatan
Akhlak adalah cerminan sejati dari keimanan seseorang. Ketika berbicara mengenai akhlak, prioritas utama dan pondasi terkuat adalah bagaimana hubungan (akhlak) kita terhadap Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Memperbaiki hubungan vertikal ini akan secara otomatis memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama makhluk. Namun, seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai implementasi praktis dari akhlak kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami akhlak kepada Allah bukan sekadar menjalankan ritual ibadah formal semata, melainkan menanamkan kesadaran penuh (muraqabah) bahwa setiap gerak-gerik, ucapan, dan niat kita senantiasa berada dalam pengawasan-Nya. Ini adalah tentang bagaimana kita merespon segala ketentuan-Nya, baik nikmat maupun ujian.
Prinsip dasar akhlak kepada Allah adalah Tauhid—mengimani keesaan Allah dalam zat, sifat, asma, dan perbuatan-Nya. Dari Tauhid inilah muncul konsep-konsep penting lainnya seperti Ikhlas (melakukan segala sesuatu hanya karena Allah semata tanpa mengharapkan pujian manusia), Khauf (rasa takut akan murka-Nya), dan Raja' (harap penuh kepada rahmat dan ampunan-Nya). Seorang hamba yang berakhlak mulia selalu menyeimbangkan antara rasa takut dan harap tersebut dalam setiap amalannya. Jika rasa takut mendominasi, ia bisa menjadi putus asa; jika harap mendominasi tanpa disertai amal, ia menjadi lembek (lalai).
Bagaimana cara membedakan antara ketakutan yang sehat (Khauf) dan keputusasaan (Putus Asa dari Rahmat Allah)?
Ketakutan yang sehat memotivasi kita untuk memperbaiki diri, menjauhi maksiat, dan meningkatkan amal ketaatan. Sebaliknya, keputusasaan adalah ketika seseorang merasa dosanya terlalu besar sehingga mustahil diampuni Allah, yang mana ini justru bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Pengampun. Jika kita dihantui kegagalan masa lalu, akhlak yang benar adalah segera bertaubat dan kembali berlari menuju ampunan-Nya.
Syukur adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah syukur hanya sebatas ucapan "Alhamdulillah"? Tentu tidak. Akhlak bersyukur diwujudkan melalui tiga tingkatan: pengakuan dalam hati bahwa nikmat itu murni dari Allah, pengucapan lisan yang memuji-Nya, dan yang paling penting, penggunaan nikmat tersebut sesuai dengan ridha-Nya. Jika Allah memberi harta, syukur adalah menginfakkannya di jalan kebaikan. Jika memberi kesehatan, syukur adalah menggunakannya untuk beribadah dan bekerja keras.
Salah satu ujian terberat dalam praktik akhlak kepada Allah adalah ketika menghadapi musibah atau hal-hal yang tidak sesuai keinginan hati. Apakah kita marah, mengeluh, atau menerima? Akhlak yang benar di sini adalah Ridha (menerima dengan lapang dada) dan Sabr (sabar). Kita harus yakin bahwa di balik setiap ketetapan Allah terdapat hikmah yang mungkin belum kita pahami saat ini. Sikap mengeluh atau menyalahkan takdir adalah indikasi lemahnya iman dan kurangnya penghormatan kita terhadap kebijaksanaan Ilahi. Ketika kita ridha, kita menegaskan bahwa ilmu Allah (yang menciptakan takdir) lebih sempurna daripada pemahaman kita yang terbatas.
Jika saya sudah berusaha maksimal namun gagal, apakah itu berarti saya kurang bersyukur?
Tidak selalu. Usaha maksimal adalah bagian dari ketaatan. Kegagalan dalam hasil akhir adalah ujian qada dan qadar. Akhlak yang dituntut di sini adalah tetap bersyukur atas kesempatan berusaha, berprasangka baik (Husnudzon Billah) terhadap hasilnya, dan segera mengevaluasi langkah berikutnya. Kegagalan hanyalah bagian dari proses.
Akhlak kepada Allah juga teruji dalam konsistensi ibadah. Shalat, puasa, zakat (ibadah mahdhah) harus dilakukan dengan kesempurnaan lahir dan batin. Namun, akhlak yang mulia meluas ke segala aspek kehidupan (ibadah ghairu mahdhah). Contohnya, kejujuran dalam berbisnis, menepati janji, bahkan menjaga kebersihan lingkungan—semua ini bisa menjadi ibadah dan bentuk pengabdian kepada Allah selama niatnya benar. Ini menunjukkan bahwa akhlak kepada Allah tidak mengenal batas waktu atau tempat; ia melekat sepanjang hidup.
Pada akhirnya, mengkaji pertanyaan seputar akhlak kepada Allah adalah upaya berkelanjutan untuk menyempurnakan cermin hati kita. Tujuan akhirnya adalah mencapai keadaan Ihsan, yaitu beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak melihat-Nya, maka kita yakin bahwa Dia melihat kita. Pemahaman yang kuat mengenai Tauhid, syukur, sabar, dan ridha akan menjadi kompas yang mengarahkan seorang muslim pada perlakuan terbaik terhadap Rabb-nya.