Konteks dan Makna QS Al Hijr Ayat 9
Surat Al-Hijr, yang merupakan salah satu surat Makkiyah, kaya akan pengingat tentang kebesaran Allah, kebenaran wahyu, dan konsekuensi dari penolakan risalah. Di tengah pembahasan mengenai bantahan terhadap orang-orang kafir yang meragukan kenabian Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan firman-Nya yang sangat tegas dalam ayat kesembilan:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami-lah penjaganya." (QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini secara eksplisit dan lugas menjawab segala keraguan dan tuduhan yang diarahkan kepada Al-Qur'an. Keyword utama yang ditekankan oleh QS Al Hijr ayat 9 adalah penegasan ketuhanan atas sumber Al-Qur'an dan jaminan mutlak atas pemeliharaannya sepanjang masa. Ayat ini mengandung dua pilar utama yang fundamental dalam keyakinan seorang Muslim.
Pilar Pertama: Penegasan Sumber Wahyu ("Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an")
Klausa pertama, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an," berfungsi sebagai otentikasi tertinggi. Dalam konteks turunnya wahyu, seringkali muncul tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW mengarangnya sendiri atau menerimanya dari sumber manusiawi lainnya. Ayat ini mematahkan klaim tersebut dengan menetapkan bahwa Sang Pencipta alam semesta—Allah SWT—adalah Mu'allif (pemberi wahyu) yang sesungguhnya.
Penegasan ini sangat krusial karena memberikan otoritas absolut pada setiap kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Al-Qur'an bukan sekadar buku etika atau sejarah yang disusun manusia; ia adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini memastikan bahwa ajaran di dalamnya bebas dari kesalahan, bias, atau perubahan persepsi yang mungkin terjadi jika sumbernya adalah makhluk terbatas.
Pilar Kedua: Jaminan Keaslian dan Keabadian ("dan Kami-lah penjaganya")
Inilah inti ketenangan bagi umat Islam. Klausa kedua, "dan Kami-lah penjaganya," menjanjikan perlindungan ilahiah terhadap Al-Qur'an dari segala bentuk distorsi, penambahan, pengurangan, atau pergeseran makna yang dapat merusak pesan aslinya. Janji penjagaan ini jauh melampaui penjagaan fisik.
Penjagaan ini mencakup beberapa dimensi:
- Penjagaan Teks (Hifz Ad-Dhat): Secara tekstual, Allah SWT menjamin bahwa rangkaian huruf, bacaan, dan mushaf Al-Qur'an akan tetap utuh dari zaman turunnya hingga akhir zaman. Tidak ada satu pun ayat yang hilang atau tertukar.
- Penjagaan Makna (Hifz Al-Ma'na): Walaupun terjadi perbedaan interpretasi (tafsir) antar ulama, Allah SWT memastikan bahwa inti ajaran (ushul) dan pesan utama (hakikat) Al-Qur'an tetap jelas dan dapat diakses oleh umat manusia melalui pemahaman yang benar dan bimbingan para cendekiawan yang mumpuni.
- Penjagaan Penerapan: Allah SWT juga menjaga keberlangsungan umat yang akan berpegang teguh pada Al-Qur'an (yaitu umat Nabi Muhammad SAW) agar selalu ada kelompok yang menjalankan ajarannya secara konsekuen, meski dalam kondisi sulit.
Relevansi Kontekstual di Era Modern
Di era digital saat ini, di mana informasi menyebar sangat cepat dan mudah dimanipulasi, jaminan dari QS Al Hijr ayat 9 menjadi semakin relevan. Banyak teks-teks kuno mengalami perubahan atau kehilangan sebagian isinya sepanjang sejarah. Namun, Al-Qur'an berdiri sebagai pengecualian yang agung.
Penjelasan tentang QS Al Hijr ayat 9 ini menegaskan bahwa tugas kita sebagai umat beriman adalah menerima wahyu ini dengan keyakinan penuh, mempelajarinya, dan mengamalkannya, karena kita tidak perlu khawatir tentang keautentikannya. Allah telah mengambil alih tanggung jawab untuk memelihara warisan suci ini, sebuah kemuliaan yang tidak diberikan kepada kitab-kitab suci terdahulu secara mutlak. Oleh karena itu, ayat ini adalah fondasi keamanan spiritual dan intelektual bagi setiap Muslim.
Kesimpulannya, QS Al Hijr ayat 9 bukan sekadar penegasan historis, melainkan deklarasi abadi bahwa Al-Qur'an adalah produk Wahyu Ilahi yang terjamin kebenarannya dan terpelihara kesempurnaannya oleh Zat yang Maha Kuasa.