Menyelami Pelajaran Etika dan Tawhid: Fokus pada QS 17 Ayat 25

Simbol Hikmah dan Keseimbangan

Al-Qur'an, sebagai pedoman hidup umat Islam, tersusun dari surat dan ayat yang kaya makna, seringkali menyajikan prinsip-prinsip universal dalam konteks spesifik. Salah satu ayat yang mendalam, yang seringkali menjadi fokus dalam kajian etika sosial dan tauhid, adalah QS 17 ayat 25. Ayat ini menempatkan fondasi moralitas seorang Muslim, menghubungkan hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia).

Konteks Ayat dan Tuntutan Ketaatan

Surat Al-Isra' (ayat ke-17) secara keseluruhan membahas banyak aspek, mulai dari perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW hingga sejumlah perintah moralitas. QS 17 ayat 25 secara eksplisit memerintahkan ketaatan penuh dan penghormatan mendalam, khususnya terhadap kedua orang tua.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut (tua) dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan jangan kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Terjemahan inti dari QS 17:25)

Ayat ini datang langsung setelah perintah untuk tidak menyekutukan Allah (Tauhid murni). Penempatan ini sangat strategis; menunjukkan bahwa ibadah tertinggi kepada Sang Pencipta harus tercermin dalam perlakuan terbaik terhadap ciptaan-Nya yang paling dekat, yaitu orang tua. Ini adalah manifestasi nyata dari keimanan.

Etika Penghormatan Lanjutan (Tingkat Kedewasaan)

Daya tarik utama dari QS 17 ayat 25 adalah bagaimana ia menekankan perlakuan terbaik pada fase yang paling rentan: masa tua. Ketika orang tua mencapai usia lanjut, mereka sering kali mengalami penurunan fisik dan emosional, membutuhkan kesabaran ekstra. Islam memberikan penekanan tegas bahwa pada titik inilah pengabdian seharusnya semakin meninggi, bukan berkurang.

Larangan mengucapkan "ah" atau "uh" adalah sebuah larangan yang sangat halus. Kata "ah" dalam konteks ini sering diartikan sebagai ungkapan ketidaksenangan, kejengkelan, atau rasa bosan. Ini menunjukkan bahwa batasan etika dalam Islam sangat detail; bukan hanya tindakan kasar yang dilarang, tetapi juga ekspresi verbal atau non-verbal yang menunjukkan ketidaknyamanan atau penolakan terhadap kebutuhan mereka.

Sebaliknya, perintahnya adalah mengucapkan "perkataan yang mulia" (*qawlan karima*). Ini berarti komunikasi harus selalu didasari oleh rasa hormat, kelembutan, dan pengakuan atas jasa-jasa mereka selama puluhan tahun membesarkan kita. Ini adalah puncak dari implementasi akhlak Islam dalam lingkup keluarga.

Implikasi Lebih Luas dari QS 17:25

Walaupun fokus utamanya adalah orang tua, spirit dari QS 17 ayat 25 meluas ke semua bentuk interaksi sosial. Jika kita diperintahkan untuk bersikap sedemikian hormat kepada mereka yang telah melahirkan dan membesarkan kita, bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain dalam masyarakat? Ayat ini menanamkan nilai empati dan tanggung jawab sosial yang kuat.

Pertama, ia memperkuat konsep Tauhid. Ketaatan pada perintah berbuat baik kepada orang tua sebanding nilainya dengan ibadah ritual, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang holistik—tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur etika antarmanusia.

Kedua, ia menuntut kerendahan hati. Sulit bagi seorang anak yang sudah dewasa, mandiri secara finansial, untuk tunduk pada kebutuhan orang tua yang mungkin merasa kurang dihargai. Ayat ini adalah pengingat konstan bahwa keberhasilan duniawi tidak membatalkan kewajiban berbakti. Bahkan ketika orang tua membutuhkan pengasuhan penuh (memerlukan bantuan total), sikap yang harus ditunjukkan tetaplah sikap seorang pelayan yang penuh cinta, bukan majikan yang merasa terbebani.

Memahami dan mengamalkan pesan dalam QS 17 ayat 25 bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah perintah ilahiah yang menjamin keseimbangan spiritual dan keharmonisan rumah tangga. Dengan memuliakan orang tua, seorang Muslim secara tidak langsung sedang memuliakan nilai-nilai yang diletakkan Allah SWT dalam pondasi kehidupan yang baik dan benar.

Perluasan Tafsir dan Keutamaan

Banyak ulama tafsir menekankan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain) seringkali disebut dalam Al-Qur'an berdampingan dengan perintah shalat. Ini menegaskan bahwa kualitas spiritual seseorang dapat diukur dari kualitas hubungannya dengan orang tuanya. Bagi mereka yang orang tuanya sudah meninggal, pesan ini diterjemahkan menjadi amal jariyah, doa untuk mereka, dan menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka.

Keseluruhan pesan dalam QS 17 ayat 25 adalah tentang transfer kasih sayang secara timbal balik dan berkelanjutan. Ketika kita mempersembahkan kebaikan terbaik pada masa mereka membutuhkan, kita menanam benih kebaikan yang kelak akan dipanen, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat ini adalah jembatan antara kewajiban keagamaan dan kewajiban kemanusiaan yang paling fundamental.

šŸ  Homepage