Kisah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai Isra' Mi'raj, adalah salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada beliau. Peristiwa ini dicatat secara ringkas namun padat makna dalam Al-Qur'an, khususnya pada **Surah Al-Isra' (atau Bani Israil) ayat 1 sampai 5**. Ayat-ayat pembuka surah ini menjadi landasan utama bagi pemahaman kita mengenai keagungan perjalanan spiritual dan fisik Rasulullah.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pertama ini langsung memperkenalkan inti peristiwa: Isra', yaitu perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Penggunaan kata "Subhana" (Maha Suci) di awal ayat menunjukkan betapa luar biasanya peristiwa ini—suatu tindakan yang melampaui nalar manusia biasa dan hanya mungkin dilakukan oleh Zat Yang Maha Kuasa.
Allah SWT menegaskan status Nabi Muhammad sebagai "hamba-Nya" (bi-'abdihi). Ini bukan sekadar penekanan kebanggaan, tetapi pengingat bahwa mukjizat ini diberikan kepada seorang hamba yang tulus dalam ketaatannya. Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan rekreasi, melainkan wahyu yang bertujuan untuk menunjukkan sebagian dari "tanda-tanda kebesaran Kami" (min āyātinā).
Keberkahan (barakna) yang disebutkan mengelilingi Masjidil Aqsa menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki nilai spiritual yang tinggi, tempat para nabi terdahulu beribadah dan menjadi saksi sejarah kenabian. Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, mengawasi setiap detail perjalanan tersebut.
Setelah menceritakan Isra', ayat-ayat berikutnya (2 sampai 5) membahas konteks yang lebih luas mengenai Bani Israil, yang menjadi fokus utama surah ini, sekaligus menguatkan kenabian Muhammad SAW melalui perbandingan historis.
وَءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلْنَٰهُ هُدًى لِّبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلًا
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Ayat kedua mengingatkan Bani Israil akan anugerah Kitab Taurat yang diterima Musa AS. Allah memerintahkan mereka untuk tidak mengambil pelindung selain Dia. Hal ini berfungsi sebagai pengantar kenapa Bani Israil akan menerima peringatan keras di ayat-ayat berikutnya.
ذُرِّيَّةَ مَنْ مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Wahai keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.
Ayat ketiga menghubungkan Bani Israil dengan Nabi Nuh AS, mengingatkan mereka bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang yang diselamatkan karena rasa syukur mereka kepada Allah. Sifat syukur ini seharusnya diwarisi, bukan malah diabaikan.
وَقَضَيْنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ فِى ٱلْكِتَٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi (Palestina) dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
Ayat keempat adalah peringatan tegas. Allah memberitahu bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi (sering diinterpretasikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis pertama oleh Nebukadnezar dan yang kedua oleh Romawi). Kesombongan adalah akar dari kebinasaan mereka.
فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُولَىٰهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُوْلِى بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا۟ خِلَٰلَ ٱلدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
Maka apabila datang janji (pelaksanaan hukuman) yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Ayat kelima menjelaskan konsekuensi dari kerusakan kedua. Allah akan mengirimkan pasukan yang sangat kuat untuk menghukum mereka sebagai pemenuhan janji yang pasti terjadi. Ayat-ayat ini, yang mengiringi kisah Isra' Mi'raj, menunjukkan bahwa mukjizat yang diterima Nabi Muhammad adalah bagian dari rencana ilahi yang lebih besar, menegaskan kebenaran risalah beliau di tengah penolakan dan kesesatan umat terdahulu.
Kajian terhadap ayat-ayat awal Surah Al-Isra' ini memberikan beberapa pelajaran fundamental. Pertama, **keistimewaan Nabi Muhammad SAW** tidak hanya terletak pada kemuliaan akhlaknya, tetapi juga pada kedekatan spiritualnya dengan Allah yang diwujudkan melalui perjalanan fisik yang ajaib. Kedua, ayat-ayat ini menegaskan **prinsip keadilan ilahi**: setiap kaum akan mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya, baik berupa anugerah maupun hukuman. Bagi umat Islam saat ini, kisah ini menjadi penguat iman dan pengingat akan pentingnya selalu berpegang teguh pada petunjuk Allah, menjauhi kesombongan, dan meneladani sifat syukur Nabi Nuh AS.