Ikon hati dan penerimaan
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 25 ini mengandung pelajaran fundamental tentang kedudukan hidayah (petunjuk) dalam pandangan Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa pada akhirnya, hanya Allah SWT yang memiliki pengetahuan mutlak mengenai siapa yang benar-benar menempuh jalan petunjuk dan siapa yang memilih untuk tersesat dalam kegelapan kesia-siaan.
Penegasan Kuasa dan Ilmu Allah
Poin utama dari ayat ini adalah validasi bahwa penilaian akhir atas ketulusan hati dan arah hidup seseorang sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Manusia mungkin bisa menilai penampilan luar, amal ibadah yang terlihat, atau ucapan yang terucap, tetapi Allah Maha Mengetahui isi hati yang paling tersembunyi. Ketika seseorang menyatakan mengikuti petunjuk, apakah hatinya benar-benar tunduk dan lapang menerima kebenaran? Atau, ketika seseorang tampak menjauh dari petunjuk, apakah ada dorongan atau kesesatan yang menguasainya? Allah Maha Tahu jawabannya.
Frasa "وَرَبُّكَ أَعْلَمُ" (Dan Tuhanmu lebih mengetahui) adalah penegasan otoritas ilahi. Ini berfungsi sebagai pengingat bagi orang beriman untuk tidak terlalu fokus pada penghakiman manusia lain, melainkan memastikan bahwa hubungan mereka dengan petunjuk (Al-Qur'an dan Sunnah) adalah tulus dan murni. Ketulusan ini berarti menerima kebenaran tanpa pamrih, tanpa mengharapkan pujian manusia, dan tanpa motif tersembunyi.
Konsekuensi dari Kesesatan
Ayat ini tidak hanya menggarisbawahi siapa yang mendapat petunjuk, tetapi juga memberikan konsekuensi tegas bagi mereka yang memilih jalan sebaliknya: "وَمَنْ تَغَشَّىٰ الضَّلَالَةَ فَسَيُجْزَاهُ خُسْرَانًا" (dan siapa yang tersesat, maka Dia akan membalasnya dengan kerugian). Kata "تَغَشَّىٰ" (menyelubungi/menutupi) menyiratkan bahwa kesesatan itu bukan sekadar salah langkah, melainkan sebuah pilihan aktif untuk membiarkan kegelapan menutupi hati dan pandangan mereka.
Kerugian (خُسْرَانًا) yang dijanjikan bukanlah kerugian harta benda duniawi, melainkan kerugian yang paling hakiki: kerugian spiritual dan keabadian. Barangsiapa yang menolak petunjuk Allah, ia sesungguhnya telah menukar kebahagiaan abadi dengan ilusi kesenangan sesaat di dunia. Kerugian terbesar adalah kehilangan rahmat Allah dan tempat kembali yang mulia di akhirat.
Aplikasi Praktis: Fokus pada Niat (Ikhlas)
Bagi seorang Muslim, Al-Isra ayat 25 adalah motivasi kuat untuk selalu melakukan introspeksi diri (muhasabah) terkait niat (niyyah). Dalam konteks ibadah, keikhlasan adalah kunci. Apakah shalat kita dilakukan karena Allah atau karena ingin dilihat orang lain? Apakah sedekah kita karena ingin dipuji sebagai dermawan atau karena meneladani sifat kedermahan Ilahi?
Ketulusan hati dalam mengikuti petunjuk menuntut usaha keras untuk membersihkan hati dari riya’ (pamer) dan ujub (merasa diri hebat). Ketika kita berupaya keras untuk taat, namun kita masih merasa kurang, itulah tanda bahwa hati kita masih berjuang menuju ketulusan sejati yang diridhai Allah. Sebaliknya, jika seseorang melakukan maksiat namun hatinya terusik dan menyesal, maka masih ada harapan karena benih petunjuk masih hidup di sanubari.
Ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan spiritual adalah perjalanan batiniah yang hanya dapat disaksikan sepenuhnya oleh Allah. Oleh karena itu, fokus utama kita haruslah memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, memohon agar Dia selalu menuntun hati kita pada petunjuk-Nya, sehingga pada hari perhitungan nanti, kita termasuk golongan yang Dia ketahui sebagai pengikut hidayah, bukan yang ditutupinya dengan kerugian abadi.