Ilustrasi visualisasi keagungan dan rahmat Ilahi.
"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih patut mendapat petunjuk jalan."
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, ayat ke-54 merupakan penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang bagaimana Allah memberikan petunjuk kepada makhluk-Nya. Ayat ini secara spesifik menegaskan otoritas dan pengetahuan mutlak Allah dalam menentukan siapa yang benar-benar berada di jalan yang lurus.
Setelah dalam ayat-ayat sebelumnya Allah SWT berbicara mengenai kebangkitan, pertanggungjawaban, serta bagaimana manusia terkadang menyimpang dari kebenaran karena kesombongan atau ketidaktahuan, ayat 54 hadir sebagai penegasan akhir. Ayat ini berfungsi sebagai penenang bagi orang-orang beriman dan peringatan bagi mereka yang merasa paling benar.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَهُوَ أَعْلَمُ" (Dan Dia lebih mengetahui). Ini menekankan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas, hanya mampu menilai berdasarkan penampilan luar, perilaku yang terlihat, atau argumentasi yang disusun. Sebaliknya, Allah melihat jauh ke dalam hati, niat, dan potensi sejati setiap individu.
Ketika kita berbicara tentang "petunjuk jalan" (أَهْدَىٰ سَبِيلًا), ini bukan hanya merujuk pada petunjuk ritualistik, tetapi petunjuk menyeluruh menuju kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Seseorang mungkin tampak sangat saleh di mata manusia, rajin beribadah, dan aktif di masyarakat. Namun, jika di dalam hatinya terdapat kesombongan, iri hati, atau penolakan tersembunyi terhadap kebenaran hakiki, maka di hadapan Allah, ia belum tentu berada di jalan yang paling terpimpin.
Pemahaman mendalam terhadap QS Al-Isra ayat 54 memberikan beberapa implikasi penting bagi kehidupan spiritual kita. Pertama, ini menuntut kita untuk senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati). Karena hanya Allah yang mengetahui keadaan sejati kita, maka kita harus berhati-hati dalam menghakimi orang lain, dan yang lebih penting, berhati-hati dalam menilai diri sendiri terlalu tinggi.
Kedua, ayat ini mendorong kita untuk terus-menerus memohon petunjuk. Keimanan bukanlah pencapaian statis, melainkan perjalanan dinamis. Jalan petunjuk yang paling baik adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sang Pencipta sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan logika murni atau tradisi semata tanpa bimbingan Ilahi.
Ayat ini secara halus membedakan antara mengetahui kebenaran secara intelektual dan benar-benar berada di bawah naungan petunjuk Ilahi. Banyak orang mungkin "tahu" apa itu Islam atau kebenaran secara konsep, tetapi tidak semua orang yang tahu kemudian diizinkan Allah untuk mengamalkannya dengan tulus dan istiqamah. Allah adalah Al-Hadi (Yang Maha Memberi Petunjuk). Pemberian petunjuk adalah karunia eksklusif yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, berdasarkan kemauan dan kesiapan hati penerimanya.
Oleh karena itu, ayat 54 ini menegaskan kembali supremasi kehendak dan pengetahuan Allah. Ia mengingatkan umat manusia agar tidak merasa bangga dengan pencapaian spiritualnya sendiri, karena validitas akhir dari setiap jalan yang kita tempuh hanya diketahui oleh Dia yang menciptakan kita dan alam semesta ini. Fokus kita seharusnya adalah berusaha keras dan berdoa agar Allah berkenan menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang paling tepat petunjuknya.