Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ketujuh dari surat ini memuat pesan mendalam mengenai konsekuensi dari perbuatan manusia, baik itu kebaikan maupun kejahatan. Ayat ini sering dikutip untuk mengingatkan bahwa setiap tindakan akan mendapatkan balasannya di dunia dan akhirat.
"In aḥsantum aḥsantum li-anfusikum, wa in asa'tum fa-lahā, fa-idza ja'a wa'dul-ākhirati li-yasū'ū wujūhakum wa li-yadkhulūl-masjida kamā dakhalūhu marratan wa li-yutabbirū mā 'alaw tatbīrā."
Arti Per Kata dan Terjemahan Lengkap
Terjemahan: "Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu untuk dirimu sendiri pula. Maka, apabila datang saat balasan (untuk kedua kalinya), (Kami kirimkan musuh-musuh-Mu) untuk menyuramkan muka kalian dan untuk memasuki masjid (Baitul Maqdis), sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan apa saja yang kalian kuasai dengan kebinasaan yang sehancur-hancurnya."
Konteks dan Penjelasan Ayat
Ayat ke-7 dari Surah Al-Isra ini merupakan peringatan keras sekaligus janji ilahi yang tegas mengenai prinsip dasar keadilan universal: setiap perbuatan pasti akan menuai hasilnya. Bagian pertama ayat ini menekankan akuntabilitas pribadi: kebaikan yang dilakukan akan kembali membawa manfaat bagi pelakunya sendiri, dan keburukan akan kembali menimpanya. Ini sejalan dengan kaidah bahwa setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya.
Bagian kedua ayat ini memberikan konteks historis dan kenabian yang sangat spesifik. Para mufassir sepakat bahwa ayat ini merujuk pada dua kali kehancuran besar yang menimpa Bani Israil (Yahudi) di Yerusalem (Baitul Maqdis).
Balasan Pertama: Kehancuran yang disebabkan oleh perbuatan buruk mereka sendiri—seperti menyimpang dari ajaran tauhid, melakukan kerusakan, dan membunuh nabi-nabi. Balasan ini diwujudkan melalui penaklukan dan penghancuran oleh musuh luar.
Balasan Kedua (Wa'dul-Ākhirah): Ayat ini secara khusus menunjuk pada janji datangnya hukuman yang kedua kalinya. Sebagian besar ulama menafsirkannya merujuk pada peristiwa penaklukan Yerusalem oleh tentara Romawi di bawah pimpinan Titus (Nero) pada tahun 70 M. Dalam peristiwa ini, Baitul Maqdis dihancurkan total, kuil mereka diratakan, dan kerusakan masif terjadi—sebuah pembalasan atas pembangkangan mereka yang berkelanjutan. Kata "li-yasū'ū wujūhakum" (untuk menyuramkan muka kalian) menunjukkan kehinaan dan aib yang ditimpakan atas mereka akibat dosa-dosa mereka.
Pesan utama ayat ini bukan hanya sekadar hukuman, melainkan sebuah siklus koreksi. Allah SWT memberikan kesempatan kepada Bani Israil untuk bertaubat, namun ketika mereka terus menerus berbuat kerusakan setelah diberi nikmat kenabian dan kekuasaan, maka datanglah azab yang ditimpakan secara total.
Ayat ini mengajarkan umat Islam bahwa meskipun kita mungkin melihat kejahatan terkadang menang di permukaan, prinsip keadilan Allah akan selalu ditegakkan, entah di dunia maupun di akhirat. Kebaikan adalah investasi untuk diri sendiri, dan keburukan adalah bom waktu yang pasti akan meledak bagi pelakunya. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kemakmuran dan kekuasaan yang diberikan Allah harus digunakan dengan penuh tanggung jawab, sebab kesombongan dan kerusakan akan mengundang kehancuran yang total, sebagaimana diisyaratkan dalam kata "tatbīrā" (kehancuran yang sehancur-hancurnya).