Memahami QS Al-Isra Ayat 55

Simbol Wahyu dan Petunjuk Ilahi

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra (Al-Isra') Ayat 55

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
Katakanlah: "Serulah (mereka) yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia, maka mereka tidak berkuasa menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak (pula) mengubahnya (dengan memindahkannya kepada orang lain)."

Surat Al-Isra, ayat ke-55, merupakan salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang secara tegas menyoroti konsep tauhid (mengesakan Allah) dan menolak segala bentuk kesyirikan. Ayat ini datang setelah ayat-ayat yang membicarakan tentang kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW dan kebenaran Al-Qur'an sebagai petunjuk. Dalam konteks ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengajukan tantangan kepada orang-orang musyrik pada masanya.

Kontekstualisasi Ayat: Tantangan Terhadap Sesembahan Selain Allah

Ayat 55 ini berfungsi sebagai ujian validitas bagi objek-objek pemujaan selain Allah yang disembah oleh kaum musyrik. Perintahnya jelas: "Katakanlah: 'Serulah (mereka) yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia...'" Ini bukan sekadar perintah retoris, melainkan sebuah tantangan nyata. Jika sesembahan-sesembahan tersebut benar-benar memiliki kekuatan ilahiah atau kemampuan ilahi, maka mereka seharusnya mampu memenuhi permohonan umatnya, terutama ketika menghadapi musibah atau kesulitan.

Inti dari tantangan ini terletak pada frasa berikutnya: "...maka mereka tidak berkuasa menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak (pula) mengubahnya." Kata 'bahaya' di sini mencakup segala bentuk kesulitan, penyakit, kesengsaraan, atau penderitaan yang menimpa manusia. Ayat ini menegaskan batas kemampuan mutlak dari segala sesuatu yang disembah selain Allah. Mereka tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan penderitaan itu, apalagi memindahkannya kepada orang lain atas kehendak mereka sendiri.

Penegasan Kekuasaan Mutlak Allah

Kontras antara klaim kekuatan sesembahan palsu dengan realitas penolakan mereka menunjukkan superioritas dan keunikan kekuasaan Allah SWT. Hanya Allah Yang Maha Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan. Dialah satu-satunya Dzat yang memiliki otoritas penuh atas segala yang ada, termasuk kemampuan untuk mendatangkan maupun menghilangkan kesulitan.

Ayat ini mengajarkan kepada umat Islam bahwa ketika menghadapi kesulitan, tempat memohon pertolongan yang sesungguhnya dan yang pasti akan menjawab hanyalah kepada Allah. Ketergantungan hati harus diarahkan sepenuhnya kepada sumber daya yang benar-benar memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan. Menggantungkan harapan pada makhluk atau apa pun selain Allah adalah tindakan sia-sia dan merupakan bentuk penyimpangan akidah.

Implikasi Filosofis dan Spiritual

Secara spiritual, QS Al-Isra ayat 55 adalah pengingat tentang keterbatasan eksistensi makhluk. Setiap entitas, betapapun dihormati atau diagungkannya oleh manusia, tetaplah makhluk yang terikat oleh hukum sebab akibat dan keterbatasan ciptaan. Mereka tidak memiliki inisiatif independen untuk bertindak di luar kehendak mutlak Sang Pencipta.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman ayat ini membebaskan seorang mukmin dari rasa takut yang berlebihan terhadap kekuatan duniawi atau mitos-mitos yang dipercayai secara turun-temurun. Ketakutan terbesar seharusnya hanya ditujukan kepada Allah, dan harapan terbesar hanya disematkan kepada-Nya. Ayat ini memperkuat prinsip bahwa doa dan upaya harus selalu ditujukan kepada Dzat yang Maha Kuasa untuk mewujudkan harapan tersebut, tanpa perantara yang tidak memiliki daya apa pun. Dengan demikian, iman menjadi semakin kokoh dan terarah pada sumber kekuatan sejati.

Kesimpulannya, QS Al-Isra ayat 55 adalah fondasi tauhid yang kuat, mendesak umat manusia untuk meninjau kembali objek ibadah mereka dan mengakui bahwa hanya Allah, tanpa sekutu, yang memegang kunci atas segala bala dan rahmat.

🏠 Homepage