Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyyah yang kaya akan kisah-kisah para nabi dan perjanjian-perjanjian ilahi. Ayat 112 secara spesifik mengabadikan momen krusial dalam sejarah kenabian Isa al-Masih AS, yaitu pengukuhan iman para pengikut setianya, yang dikenal sebagai kaum Hawariyyin. Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah pelajaran abadi tentang keikhlasan dan komitmen total terhadap kebenaran ilahi.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "ilham" (أَوْحَيْتُ) yang ditujukan Allah kepada Hawariyyin. Ini menunjukkan bahwa penguatan iman mereka datang langsung dari sumber tertinggi, bukan semata-mata hasil retorika Nabi Isa AS. Ilham tersebut memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah dan juga kepada rasul-Nya. Respons yang diberikan Hawariyyin sangat lugas dan tegas: "Kami telah beriman dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri."
Respons mereka mengandung inti dari ajaran Islam itu sendiri. Dengan mengatakan "Kami telah beriman" (ءَأَمَنَّا), mereka mengikrarkan tauhid—keyakinan penuh terhadap keesaan Allah dan kerasulan Nabi Isa AS. Lebih mendalam lagi, penutup kalimat mereka, "dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim)" (بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ), menegaskan bahwa iman mereka termanifestasi dalam bentuk totalitas kepatuhan dan ketundukan. Kata 'Muslim' dalam konteks ini merujuk pada status penyerahan diri mutlak kepada kehendak Ilahi, yang merupakan esensi dari seluruh agama yang dibawa para nabi.
Ayat ini menjadi standar emas bagi setiap pengikut kebenaran. Ketika dihadapkan pada kebenaran yang datang dari Allah melalui perantara rasul-Nya, respons yang ideal adalah pengakuan iman yang diikuti dengan pernyataan kesaksian bahwa diri telah sepenuhnya tunduk (berserah diri). Tidak ada ruang untuk keraguan atau penundaan dalam menerima risalah tersebut.
Bagi umat Islam saat ini, Surah Al-Maidah ayat 112 memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, urgensi pembaruan iman. Sama seperti Hawariyyin yang diilhami untuk mengikrarkan iman mereka, umat Islam didorong untuk secara berkala melakukan introspeksi dan memperkuat keyakinan mereka, memastikan bahwa iman tersebut tidak hanya sekadar warisan budaya, melainkan keyakinan hidup yang aktif dan diakui.
Kedua, kesatuan orientasi. Hawariyyin beriman kepada Allah *dan* rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa iman yang sempurna tidak memisahkan antara keyakinan kepada Tuhan Pencipta dengan ketaatan kepada utusan-Nya. Keduanya berjalan beriringan sebagai satu kesatuan ajaran.
Ketiga, kesaksian publik. Mereka meminta agar Allah SWT menjadi saksi atas status mereka sebagai Muslim. Ini mengajarkan pentingnya menjadi saksi kebenaran di hadapan Allah, yang kemudian secara implisit menuntut tanggung jawab untuk mewujudkan status 'muslim' tersebut dalam setiap tindakan dan perilaku sehari-hari, sehingga menjadi teladan (saksi) bagi lingkungan sekitar.
Kisah Hawariyyin dalam ayat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa konsistensi antara keyakinan hati dan pengakuan lisan adalah ciri utama para pejuang kebenaran yang dirahmati. Keberanian mereka dalam menyatakan diri sebagai 'muslim' di tengah tantangan zaman menjadi cerminan dari kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada pesan kenabian.