Kisah Nabi Musa dan Perintah Allah dalam Al-Maidah Ayat 23
Al-Qur'an Al-Karim adalah sumber petunjuk bagi umat Islam, berisi kisah-kisah para nabi terdahulu sebagai pelajaran berharga. Salah satu momen krusial dalam sejarah kenabian adalah ketika Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk memasuki tanah suci (Baitul Maqdis) setelah 40 tahun Bani Israil mengembara di padang pasir. Perintah ini termaktub indah dalam Surah Al-Maidah, khususnya ayat ke-23, yang sarat makna kepemimpinan, keteguhan iman, dan konsekuensi pembangkangan.
Ayat ini berbicara tentang respons kaum Nabi Musa ketika menerima mandat suci tersebut. Mereka menunjukkan keraguan dan ketakutan, yang merupakan sifat manusiawi, namun dalam konteks kepemimpinan ilahi, keraguan ini dapat berujung pada pembangkangan. Mari kita telaah teks ayat tersebut:
Konteks Penolakan dan Keteguhan Dua Pemuda
Sebelum ayat ini turun, kaum Nabi Musa diperintahkan untuk memasuki kota Yerikho (atau sekitarnya) yang saat itu dikuasai oleh kaum 'Amaliqah yang kuat. Reaksi mayoritas Bani Israil adalah penolakan dan ketakutan. Mereka berkata kepada Nabi Musa, "Hai Musa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka ada di dalamnya, maka pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan duduk menanti di sini saja." (QS. Al-Maidah: 24).
Di tengah keraguan kolektif tersebut, muncul suara dari dua individu yang berani. Ayat 23 menyoroti keberanian dan keimanan dua orang di antara mereka yang Allah telah anugerahi nikmat (ilmu dan keberanian). Kedua tokoh ini, yang diyakini adalah Yusa' bin Nun dan Kalib bin Yafuna (menurut beberapa tafsir), maju ke depan untuk memberikan suntikan semangat dan keyakinan.
Pelajaran Iman dan Tawakal
Pesan utama yang disampaikan oleh kedua pemuda tersebut sangat jelas dan mendalam, berpusat pada dua pilar utama ajaran Islam: **Keberanian Bertindak** dan **Tawakal Mutlak kepada Allah SWT**.
- "Majulah kamu serbu mereka melalui pintu gerbang itu": Ini adalah perintah untuk mengambil inisiatif dan menghadapi tantangan secara langsung. Keimanan sejati tidak pasif; ia menuntut aksi nyata. Mereka tidak menyarankan persembunyian, melainkan serangan frontal yang terkoordinasi.
- "Maka apabila kamu memasukinya, sesungguhnya kamulah yang akan menang": Ini adalah janji ilahi yang disampaikan melalui lisan para orang beriman. Kemenangan bukan diukur dari kekuatan fisik semata, melainkan dari janji Allah kepada mereka yang taat.
- "Dan bertawakallah kamu kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman": Inilah inti dari seluruh perintah. Tindakan (serbu) harus didasarkan pada fondasi keimanan yang kokoh (tawakal). Tawakal di sini bukan berarti diam menunggu, melainkan melaksanakan ikhtiar terbaik lalu menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah.
QS Al-Maidah ayat 23 mengajarkan kita bahwa menghadapi kesulitan besar—baik itu tantangan fisik, dakwah, atau masalah pribadi—memerlukan kombinasi antara keberanian fisik yang terarah dan ketenangan hati yang bersumber dari keyakinan bahwa Allah adalah penjamin akhir dari setiap usaha yang dilakukan dengan niat tulus.
Relevansi Kontemporer
Dalam kehidupan modern, kita sering dihadapkan pada "pintu gerbang" besar yang tampak mustahil untuk dilewati: memulai bisnis, menuntut ilmu di tempat yang sulit, atau menghadapi krisis sosial. Kisah ini mengingatkan bahwa generasi yang kuat adalah generasi yang siap memimpin, bukan generasi yang mudah menyerah pada ketakutan. Kedua pemuda tersebut menunjukkan bahwa meskipun mayoritas ragu, kebenaran sering kali diusung oleh segelintir orang yang hatinya telah disucikan dan dipenuhi keikhlasan.
Kisah Nabi Musa dan perintah memasuki tanah suci melalui Al-Maidah ayat 23 adalah pengingat abadi bahwa jalan menuju kemajuan dan kemenangan bagi orang beriman selalu melewati medan jihad (perjuangan), di mana keberanian bertindak dan sandaran penuh kepada Zat Yang Maha Kuasa adalah syarat mutlak keberhasilan.