Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya, dan menjadi hakim terhadap kitab-kitab tersebut; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka, dengan berpaling dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan (syari'at dan minhaj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan. (QS. Al-Maidah: 48)
Panduan Tajwid QS. Al-Maidah Ayat 48 (Ringkasan)
Ayat ini mengandung banyak kaidah tajwid yang penting untuk diperhatikan demi menjaga keaslian bacaan Al-Qur'an.
وَأَنْزَلْنَا (Wa anzalnā): Terdapat Ikhfa' Haqiqi pada Nun Sukun bertemu huruf Zāy (ز). Dibaca samar dengan dengung selama 1 alif (2 harakat).
الْكِتَابَ بِالْحَقِّ (Al-Kitāba bil-Ḥaqqi): Pada kata الحق terdapat Tafkhim (tebal) pada huruf Ḥā' (ح) karena didahului fathah, dan harus dipisahkan dengan jelas (Qalqalah Sugra pada Qaf jika di akhir kata, namun di sini tidak ada).
مُصَدِّقًا لِمَا (Muṣaddiqan limā): Tanwin fathah bertemu dengan Lam (ل). Ini adalah hukum Idgham Bighunnah (tanpa dengung), dibaca melebur tanpa suara sengau.
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ (Wa muhayminan 'alayh): Bacaan Ghunnah pada Nun fathah yang bertasydid (Syaddah) harus jelas dan sepanjang 2 harakat.
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ (Faḥkum baynahum): Terdapat Sukun (mati) pada huruf Kāf (ك). Ini adalah salah satu huruf Qalqalah (Qalqalah Sugra) yang harus dipantulkan ringan.
وَلَا تَتَّبِعْ (Wa lā tattabi'): Pada huruf Tā' yang bertasydid, dibaca penekanan yang kuat.
شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا (Syir'atan wa minhājan): Terdapat Ikhfa' pada Nun Sukun bertemu dengan Wāw (و) dan Tanwin bertemu Wāw (و). Keduanya dibaca samar dengan dengung.
لَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ (Lākin liyabluwakum): Nun Sukun bertemu Lam (ل). Ini adalah hukum Idgham Bighunnah (tanpa dengung).
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ (Fastabiqu al-khairāti): Huruf Khā' (خ) dalam kata الْخَيْرَاتِ dibaca tebal (Tafkhim).
Penjelasan Singkat Ayat
Surat Al-Maidah ayat 48 merupakan landasan penting dalam syariat Islam, khususnya mengenai kedudukan Al-Qur'an. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Kitab suci yang mengandung kebenaran absolut. Fungsinya tidak hanya membenarkan kitab-kitab terdahulu (seperti Taurat dan Injil) tetapi juga berfungsi sebagai "Muhaimin," yang berarti pengawas, penjaga, dan penentu kebenaran akhir atas ajaran-ajaran sebelumnya.
Pesan sentral dari ayat ini adalah perintah tegas kepada Rasulullah SAW—dan secara implisit kepada umatnya—untuk memutuskan perkara berdasarkan hukum yang diturunkan Allah. Ayat ini secara eksplisit melarang mengikuti hawa nafsu atau kebiasaan yang bertentangan dengan wahyu Ilahi.
Lebih lanjut, ayat ini menjelaskan prinsip pluralitas dalam beragama dari sisi syariat, namun dengan kebenaran yang satu. Allah memberikan "syir'atan wa minhājan" (aturan dan jalan) yang berbeda bagi setiap umat terdahulu. Namun, jika Allah berkehendak, Ia bisa saja menjadikan semua manusia satu umat dengan satu syariat tunggal. Kenyataannya, Allah menciptakan keragaman tersebut sebagai ujian (untuk melihat siapa yang paling berlomba-lomba dalam kebaikan). Ayat diakhiri dengan pengingat bahwa kepulangan semua makhluk hanya kepada Allah, di mana Dia akan memberikan keputusan final mengenai perbedaan-perbedaan yang terjadi di dunia.
Konteks ini mendorong umat Islam untuk selalu kembali kepada Al-Qur'an sebagai sumber hukum utama dan mendorong semangat kompetisi positif dalam berbuat kebajikan sebagai persiapan untuk hari penghisaban.
Pentingnya Mempelajari Tajwid
Mempelajari ilmu tajwid—seni membaca Al-Qur'an sesuai kaidah yang benar—adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang membaca Al-Qur'an. Seperti yang terlihat dalam QS. Al-Maidah ayat 48, perbedaan tipis dalam panjang bacaan (mad), cara pengucapan nun mati (ikhfa', idgham, izhar, iqlab), atau penekanan huruf (tafkhim/tarqiq) dapat mengubah makna kalimat secara signifikan.
Ayat 48 ini kaya akan kaidah, mulai dari Ikhfa' (samar), Idgham (melebur), hingga Qalqalah (memantul). Menguasai hal ini memastikan bahwa pesan yang disampaikan Allah, tentang pentingnya kebenaran dan keadilan, tersampaikan tanpa cacat interpretasi fonetik. Membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan dan jelas) adalah bagian dari cara memuliakan wahyu tersebut.