QS Isra merujuk pada Surah Al-Isra' dalam Al-Qur'an, yang merupakan surah ke-17. Nama surah ini diambil dari kata "Isra'" yang berarti perjalanan malam. Ayat pertama dari surah ini secara dramatis menceritakan salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan malam (Isra') dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Peristiwa ini tidak hanya menjadi penegasan kebenaran kenabian beliau, tetapi juga mengandung pelajaran spiritual dan historis yang mendalam bagi umat Islam.
Perjalanan yang dimaksudkan dalam QS Isra' ini umumnya terbagi menjadi dua bagian: Isra' dan Mi'raj. Isra' adalah perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) dalam satu malam. Para ulama menafsirkan perjalanan ini sebagai cara Allah menghibur Nabi Muhammad SAW setelah mengalami tahun-tahun yang penuh kesedihan (Amul Huzn), di mana beliau kehilangan dua pendukung utamanya, yaitu istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Setelah tiba di Baitul Maqdis, barulah dilanjutkan dengan Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi SAW naik ke langit (sidratul muntaha) melewati tujuh lapisan langit hingga bertemu dengan Allah SWT. Dalam peristiwa inilah Allah mewajibkan salat lima waktu sehari semalam bagi umat Islam. Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah salat, yang bahkan diwajibkan langsung oleh Allah tanpa perantara wahyu melalui Jibril di bumi.
Selain peristiwa luar biasa itu sendiri, Surah Al-Isra' mengandung banyak sekali petunjuk dan etika kehidupan yang relevan hingga kini. Surah ini dibuka dengan pujian kepada Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, menandakan bahwa Al-Qur'an adalah pedoman utama. Ayat-ayat selanjutnya memberikan landasan moral dan sosial yang kokoh.
Salah satu perintah penting yang termaktub dalam surah ini adalah larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah). Kemudian, diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini menegaskan prioritas utama dalam ajaran Islam: tauhid yang benar diikuti dengan bakti kepada orang tua. QS Isra' juga mengajarkan tentang larangan membunuh anak karena khawatir kemiskinan, larangan mendekati zina (karena merupakan perbuatan keji dan jalan yang buruk), serta keharusan menunaikan janji dan memberikan takaran yang adil saat berjual beli.
Lokasi persinggahan pertama, Masjidil Aqsa, memiliki posisi monumental. Dalam riwayat hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa salat di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan pahala yang berlipat ganda dibandingkan salat di tempat lain (kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi). Kunjungan ke Masjidil Aqsa sebelum Mi'raj menegaskan kedudukan Baitul Maqdis sebagai kiblat pertama umat Islam, sebelum akhirnya kiblat dipindahkan ke Ka'bah di Mekkah.
Peristiwa Isra' mengingatkan umat Islam tentang keterbatasan akal manusia dalam memahami kuasa Allah. Ketika kaum musyrik meragukan kisah perjalanan malam tersebut, mukjizat ini justru menjadi ujian keimanan. Bagi orang yang beriman, tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Surah Al-Isra' menjadi pengingat bahwa spiritualitas tertinggi dicapai melalui perjalanan yang melibatkan pengakuan atas kebesaran Ilahi dan implementasi nilai-nilai etika di dunia nyata.
Lebih dari sekadar kisah perjalanan, Al-Isra' berfungsi sebagai konstitusi moral. Surah ini secara eksplisit melarang berbagai perilaku destruktif dalam masyarakat. Selain yang telah disebutkan (syirik, durhaka pada orang tua, membunuh, zina), surah ini juga menyinggung tentang larangan berbuat boros dan kikir. Allah menggambarkan orang boros sebagai saudara setan. Hal ini mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam pengelolaan harta dan sumber daya.
Pengelolaan kata-kata juga ditekankan. Umat diperintahkan untuk berbicara dengan baik kepada manusia. Jika tidak mampu berbicara dengan baik, maka diam lebih utama. Ini adalah pelajaran tentang kebijaksanaan komunikasi, sebuah nilai fundamental dalam membangun komunitas yang harmonis. Dengan demikian, QS Isra' bukan hanya arsip sejarah mukjizat, melainkan panduan hidup yang menyeluruh, mencakup aspek akidah, ibadah, dan muamalah (interaksi sosial). Memahami dan mengamalkan isi surah ini adalah upaya mendekatkan diri kepada tuntunan Allah yang Maha Bijaksana.