Visualisasi sederhana dari Al-Qur'an terbuka, melambangkan permulaan wahyu.
Surah Al-Ma'idah (Alat Hidangan) adalah surah ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 120 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Madaniyah, yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Sebagai salah satu surah terakhir yang diturunkan, Al-Ma'idah sarat dengan penetapan hukum-hukum syariat yang lebih rinci, peraturan sosial, serta penegasan kembali janji-janji Allah SWT kepada umat manusia.
Penurunan Surah Al-Ma'idah berpusat pada tahun-tahun akhir kehidupan Rasulullah SAW. Isinya mencerminkan upaya umat Islam untuk membangun tatanan masyarakat yang islami secara komprehensif. Ayat-ayatnya membahas masalah-masalah praktis yang muncul dalam kehidupan bernegara dan beragama, termasuk interaksi dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), masalah perburuan, halalnya makanan, hingga penyempurnaan syariat Islam.
Salah satu fokus utama surah ini adalah penetapan berbagai hukum yang fundamental. Misalnya, ayat-ayat awal menegaskan pentingnya memenuhi janji dan akad (QS. 5:1). Ini adalah prinsip dasar etika sosial dan bisnis dalam Islam. Selain itu, surah ini juga mengatur secara detail tentang hukum makanan, terutama mengenai penyembelihan hewan yang sah dan larangan mengonsumsi bangkai serta hewan yang disembelih atas nama selain Allah.
Hukum mengenai perburuan saat sedang dalam keadaan ihram haji juga dibahas secara spesifik dalam Al-Ma'idah. Ketentuan ini menunjukkan perhatian Islam terhadap keseimbangan antara ibadah ritual dan kegiatan duniawi yang diizinkan, dengan batasan yang jelas demi menjaga kesempurnaan ibadah haji.
Nama surah ini diambil dari kisah yang terdapat pada ayat 112 hingga 115, yaitu permintaan para sahabat Nabi Isa AS kepada beliau untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hidangan dari langit. Kisah ini berfungsi sebagai pengingat akan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa dan pentingnya iman yang teguh meskipun telah melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Mukjizat ini menjadi bukti otentik kenabian dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa.
Al-Ma'idah memberikan panduan yang jelas mengenai interaksi Muslim dengan Ahli Kitab. Surah ini menegaskan kebenaran dasar ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi terdahulu, namun juga mengkritik penyimpangan akidah yang terjadi. Ayat-ayatnya mengizinkan umat Islam untuk memakan makanan yang disembelih oleh Ahli Kitab dan menikahi wanita suci dari kalangan mereka (selama memenuhi syarat), menunjukkan sikap toleransi dan keterbukaan dalam aspek muamalah, selama batas-batas akidah tetap dijaga.
Namun, surah ini juga keras dalam menyikapi pengkhianatan dan permusuhan. Ayat-ayat peringatan tentang mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai "auliya" (pelindung atau sekutu utama) yang menyingkirkan aturan Islam adalah peringatan serius mengenai loyalitas tertinggi seorang Muslim.
Salah satu ayat paling monumental dalam surah ini adalah ayat 3, yang menyatakan: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu." Ayat ini sering dijadikan landasan bahwa syariat Islam telah final dan lengkap pada masa itu. Tidak ada lagi ruang untuk penambahan atau pengurangan pokok ajaran, karena Allah telah meridhai Islam sebagai jalan hidup yang paripurna.
Mempelajari Surah Al-Ma'idah berarti menelusuri bagaimana syariat Islam diterapkan secara konkret dalam kehidupan bermasyarakat pasca-Hijrah. Dari etika sosial, hukum perdata, hingga hubungan antarumat beragama, surah ini menyajikan kerangka kerja yang kokoh. Ia mengajak setiap pembaca untuk senantiasa memenuhi janji, menjaga integritas moral, dan menegakkan keadilan, sebagaimana yang diamanatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya.